DOMPU — Rencana penetapan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, sebagai lokasi pertandingan cabang olahraga selancar ombak pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 NTB-NTT menuai sorotan dari kalangan pelaku olahraga selancar. Rencana pertandingan yang akan digelar di Pantai Nemberala dan Pantai Bo’a, Kecamatan Rote Barat, itu dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek teknis yang selama ini menjadi acuan utama dalam memilih arena kejuaraan selancar berskala nasional.
Kritik itu datang dari Ilyas Jakariah, mantan wasit (judge) selancar ombak yang telah malang melintang memimpin penjurian di berbagai kejuaraan, baik di Nusa Tenggara Barat maupun Nusa Tenggara Timur, termasuk di Rote Ndao sendiri. Menurut Ilyas, karakter ombak di perairan Rote Ndao jauh dari ideal untuk ajang sekelas PON.

“Saya pernah diundang jadi judge di event kejuaraan International di sana, gelombangnya kecil tidak sebagus di Lombok Tengah apalagi kalau dibanding dengan Lakey Peak,” ujar Ilyas.
Lombok Tengah Dinilai Lebih Layak
Ilyas membandingkan karakter ombak Rote Ndao dengan dua kawasan selancar unggulan di NTB, yaitu Pantai Lakey Dompu dan perairan Lombok Tengah. Ia mengakui gelombang di Lombok Tengah memang belum menandingi kualitas legendaris Lakey Peak, ombak kelas dunia yang telah lama menjadi rujukan peselancar mancanegara. Namun dibandingkan Rote Ndao, kata Ilyas, gelombang Lombok Tengah tetap lebih memenuhi syarat sebagai arena kompetisi resmi.
Penilaian itu bukan tanpa dasar pengalaman lapangan. Ilyas pernah membawa tiga atlet selancar binaan Dompu Surfing Association (DSA) untuk berlaga di kejuaraan internasional yang digelar di Rote Ndao, yakni Syamsudin Sammy, Sadam, dan Jamaica. Dari pengalaman mendampingi ketiga atlet tersebut sekaligus bertugas sebagai juri, ia menilai konsistensi dan ukuran ombak di lokasi itu kerap tidak mendukung performa terbaik para peselancar.
Klaim Kesiapan dari Pemerintah Daerah
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao telah menyatakan optimismenya menyambut penunjukan tersebut. Bupati Rote Ndao Paulus Henuk menyebut daerahnya siap menjadi tuan rumah cabang selancar ombak, dengan alasan kondisi gelombang laut setempat sudah diperhitungkan aman untuk pertandingan. Katanya pertandingan selancar ombak direncanakan berlangsung di Pantai Nemberala dan Pantai Bo’a, Kecamatan Rote Barat. Dari sisi infrastruktur, Rote Ndao disebut telah memiliki akses jalan darat yang sebagian besar dalam kondisi baik, pelabuhan untuk transportasi laut, serta Bandara D.C. Saudale yang melayani konektivitas udara harian dengan Kupang.
Pemerintah kabupaten juga berencana menyempurnakan sejumlah fasilitas pendukung seperti area parkir, ruang ganti, dan panggung pertandingan, dengan harapan ajang ini turut mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Rencana penetapan Rote Ndao sebagai venue selancar ombak sendiri sudah bergulir sejak awal 2025, ketika KONI NTT mengumumkan pembagian 22 cabang olahraga yang akan dipertandingkan di wilayah NTT, dengan selancar ombak dijatahkan ke Rote Ndao, layar ke Manggarai Barat, paralayang dan paramotor ke Nagekeo, hingga berkuda ke Sumba. Penetapan cabor dan venue tersebut disampaikan masih bersifat sementara dan menunggu keputusan final Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama KONI Pusat.
Menara Juri Lakey Peak Jadi Bukti Kesiapan Infrastruktur
Selain soal karakter gelombang, Ilyas juga menyoroti kesenjangan kesiapan infrastruktur penunjang pertandingan antara Lakey Peak dan Rote Ndao. Ia menyebut menara juri di Point Lakey Peak, yang dibangun sejak kejuaraan internasional pada 1996 dan 1997 yang digelar Indonesia Surfing Association (INSA) kerjasama Australia Surfing Profesional (ASP), hingga kini masih berdiri kokoh di lepas pantai.
“Tower yang berdiri itu adalah yang selama ini menjadi tempat juri memberi nilai langsung kepada setiap atlet selancar ombak dari berpuluh-puluh kali kejuaraan yang dilaksanakan oleh berbagai klub surfing, termasuk O’Neill dan Billabong yang pernah beberapa kali menggelarnya di Lakey Peak,” ungkap Ilyas.
Menurut Ilyas, keberadaan menara penjurian yang permanen dan teruji selama puluhan tahun itu menjadi bukti nyata bahwa Lakey Peak memiliki fondasi infrastruktur kompetisi yang matang. Fasilitas semacam ini krusial bagi cabang selancar ombak, sebab posisi juri yang tepat dan stabil di titik pecah ombak sangat menentukan akurasi penilaian, terutama untuk kejuaraan berskala besar seperti PON.
Dia menilai kesiapan semacam itu belum tampak di Rote Ndao. Rencana pembenahan yang disampaikan pemerintah kabupaten setempat masih berkisar pada fasilitas dasar seperti area parkir dan ruang ganti, sementara fasilitas teknis khusus penjurian pertandingan selancar belum banyak disinggung.
Pertaruhan antara Simbol Kedaerahan dan Standar Kompetisi
Kasus ini menggambarkan dilema yang lazim muncul dalam penyelenggaraan multi-event olahraga skala besar, karena pemerataan venue antarwilayah kerap berbenturan dengan tuntutan teknis cabang olahraga tertentu. Selancar ombak adalah cabang yang sangat bergantung pada kondisi alam, arah angin, musim, bentuk terumbu karang, hingga pasang surut gelombang, sehingga pemilihan lokasi idealnya melibatkan kajian karakter gelombang secara mendalam, dengan menempatkan kualitas teknis sebagai pertimbangan utama, sejajar dengan aspek pemerataan wilayah tuan rumah.
Suara Ilyas Jakariah dapat menjadi masukan penting bagi KONI Pusat dan Kemenpora sebelum keputusan venue final diketok. Pengalamannya sebagai juri lintas provinsi memberi perspektif teknis yang jarang tersentuh dalam pembahasan administratif semacam rapat kerja provinsi atau audiensi dengan kepala daerah.
Jika kualitas gelombang menjadi taruhannya, maka evaluasi lapangan yang komprehensif dengan melibatkan atlet, pelatih, dan juri berpengalaman layak dilakukan sebelum PON XXII 2028 resmi digelar.
Hingga berita ini diturunkan, penetapan Rote Ndao sebagai venue selancar ombak PON 2028 masih berstatus rancangan yang menunggu pengesahan resmi dari Kemenpora dan KONI Pusat. (Idin)
21,741 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini










