DOMPU — Ombak kembar yang menggulung di laut Pantai Lakey, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, selama puluhan tahun dikenal sebagai medan bermain para peselancar pria dari berbagai negara. Namun beberapa tahun terakhir, gulungan ombak di Lakey Peak, salah satu spot paling menantang di kawasan itu dengan terowongan panjang di sisi kiri dan gulungan sempurna di sisi kanan, mulai ramai ditaklukkan sekelompok anak perempuan asal Dompu.

Sukaina, Sisil, Zoei Manggaliwara, Michan, dan Umaira yang rata-rata baru beranjak 12 tahun ini adalah nama-nama yang belakangan akrab disebut di kalangan komunitas selancar Lakey. Mereka anak-anak perempuan yang tumbuh besar di pesisir Hu’u, aktif berlatih, dan sudah turun di sejumlah kejuaraan selancar. Latihan rutin mereka jalani hampir setiap pagi, memanfaatkan ombak Lakey yang konsisten sepanjang tahun untuk mengasah teknik take off, membaca arah gulungan, hingga menjaga keseimbangan di atas papan.
Puncak pencapaian kelompok ini tercatat pada ajang Lakey Merdeka Fest 2026. Di kategori Girls Division pada open tournament tersebut, Michan tampil sebagai juara satu, mengalahkan peselancar perempuan lain yang turut ambil bagian. Prestasi ini menjadi penanda bahwa pembinaan selancar perempuan di Lakey mulai menunjukkan hasil nyata, Surfing tidak lagi didominasi oleh kategori putra saja, sudah ada prempuan juga.
Muhammad Ali, pengusaha wisata sekaligus pemerhati olahraga surfing di Lakey, menjadi salah satu sosok yang mendorong pertumbuhan divisi perempuan ini. Ali mengatakan, peningkatan jumlah dan kualitas peselancar perempuan asal Lakey belakangan sangat signifikan. Katanya, Persatuan Olahraga Selancar Ombak Indonesia (PSOI) bersama Boardrider Club setempat konsisten mendorong agar setiap penyelenggaraan event surfing di Lakey tetap menghadirkan divisi khusus perempuan.
“Sekarang kami mendorong divisi cewek, ini luar biasa peningkatannya, peselancar cewek kita di Lakey. Itu yang kami push saat ini. Saya yakin lima tahun ke depan atlet selancar cewek asal Lakey, Kabupaten Dompu, akan mendominasi event selancar nasional. Mudah-mudahan,” kata Ali.
Selama ini lanjut Ali, kategori putri kerap absen atau hanya digelar sebagai pelengkap pada sejumlah turnamen selancar di berbagai daerah. Dengan konsistensi menghadirkan Girls Division, anak-anak perempuan Lakey tentu mendapat ruang kompetisi yang jelas untuk mengukur kemampuan sekaligus membangun jam terbang.
Pola pembinaan di Lakey selama ini juga terbantu oleh kondisi geografis dan budaya setempat. Anak-anak pesisir Hu’u dikenal sudah akrab dengan ombak sejak usia dini, bahkan sebelum masuk sekolah dasar. Kebiasaan ini menjadi modal alami yang kemudian diarahkan melalui latihan terstruktur bersama pelatih dan komunitas selancar lokal, sehingga bakat yang tumbuh secara alami tidak berhenti sebagai kebiasaan bermain saja, namun berkembang menjadi keterampilan kompetitif.
Keberhasilan Michan di Lakey Merdeka Fest 2026 diharapkan menjadi pemicu semangat bagi Sukaina, Sisil, Zoei, dan Umaira, serta anak-anak perempuan lain di Lakey untuk terus berlatih.
Harapan yang disampaikan Ali soal atlet perempuan Lakey mewarnai kejuaraan nasional dalam lima tahun ke depan pun bergantung pada keberlanjutan program latihan serta konsistensi penyelenggara event guna menjaga ruang kompetisi bagi peselancar putri.
Dengan kombinasi ombak kelas dunia, tradisi selancar yang mengakar sejak kecil, serta dukungan penyelenggara turnamen dan pelaku wisata setempat, Lakey Peak berpeluang menjadi salah satu lumbung atlet selancar perempuan Indonesia pada masa mendatang. (Idin)
17,647 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini










