• Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Pemasangan Iklan
  • Contact Us
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang NTB POST
  • Login
NtbPost.co
  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi
No Result
View All Result
NtbPost.co
No Result
View All Result
Home Sosial Budaya

Rumah Pohon, Menelusuri Kehidupan Suku Korowai di Pedalaman Papua

admin by admin
14 Agustus 2026
in Sosial Budaya
0
Rumah Pohon, Menelusuri Kehidupan Suku Korowai di Pedalaman Papua
215
SHARES
21.6k
VIEWS
Bagikan di WhatsAppBagikan di Facebook

Artikel ini dihimpun dari sejumlah tulisan

Oleh: Idin/ntbpost.co

BERITA TERKAIT

Tokoh Islam Tiongkok Buka Pintu Dialog dengan Ormas NTB

Kunjungan Ormas Keagamaan NTB ke Ningxia, Menimba Pelajaran Toleransi dan Strategi Entaskan Kemiskinan dari Tiongkok

Muhasabah Diri Ketika Ditimpa Bencana

Jauh di pedalaman Papua Selatan, tepatnya di kawasan hutan rawa sekitar Sungai Ndeiram Kabur dan Sungai Eilanden, hidup sebuah komunitas yang selama puluhan tahun dikenal dunia lewat gambar-gambar rumah pohon menjulang setinggi puluhan meter. Mereka adalah suku Korowai, kelompok masyarakat adat yang baru mulai berinteraksi dengan dunia luar pada awal 1970-an setelah misionaris asal Belanda menemukan keberadaan mereka.

Populasi Korowai diperkirakan berjumlah sekitar tiga ribu hingga empat ribu jiwa yang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil di sepanjang aliran sungai. Mereka hidup semi nomaden, berpindah dari satu wilayah hutan ke wilayah lain mengikuti musim berburu dan siklus tanam sagu. Sagu menjadi makanan pokok yang menopang kehidupan sehari-hari, diolah dari batang pohon yang ditebang lalu diparut dan diperas hingga menghasilkan tepung basah yang bisa dimasak menjadi papeda atau dibakar.

Rumah Pohon sebagai Identitas dan Strategi Bertahan

Rumah pohon Korowai, yang dalam bahasa setempat disebut rumah khaim, dibangun pada ketinggian yang bervariasi, mulai dari beberapa meter hingga kurang lebih 40 meter dari permukaan tanah. Konstruksi ini diketahui sebagai strategi bertahan hidup yang rasional. Ketinggian rumah berfungsi melindungi penghuni dari serangan binatang buas, banjir musiman rawa, serta ancaman konflik antarklan yang pernah mewarnai sejarah sosial mereka.

Satu rumah pohon biasanya dihuni oleh satu keluarga besar, terdiri atas beberapa keluarga inti yang berbagi ikatan kekerabatan. Material bangunan sepenuhnya berasal dari hutan sekitar, mulai dari kayu besi sebagai tiang utama hingga daun sagu sebagai atap dan dinding. Warga Korowai memperbarui rumah mereka secara berkala karena usia bangunan yang jarang bertahan lebih dari beberapa tahun akibat kelembapan tinggi dan serangan rayap.

Sistem Kepercayaan dan Warisan Sosial

Sistem kepercayaan Korowai berkaitan erat dengan alam dan roh leluhur. Mereka meyakini keberadaan laleo, roh jahat yang dianggap dapat merasuki manusia dan menyebabkan penyakit atau kematian. Kepercayaan ini melahirkan praktik yang sempat menjadi sorotan antropolog dan jurnalis internasional, yakni ritual terhadap individu yang dituduh sebagai khakhua atau penyihir pembawa roh jahat. Praktik tersebut kini semakin jarang ditemukan seiring masuknya pendidikan, agama, dan pengaruh pemerintahan modern ke wilayah mereka.

Struktur sosial Korowai bersifat egaliter dengan sistem klan sebagai unit dasar organisasi masyarakat. Setiap klan memiliki wilayah hutan tersendiri untuk berburu dan meramu, dan batas wilayah ini dihormati secara ketat oleh klan lain. Pemimpin dalam komunitas biasanya adalah tetua yang dihormati karena kebijaksanaan dan pengalaman, bukan karena jabatan formal.

Tantangan Modernisasi dan Pariwisata

Sejak dibukanya akses menuju kawasan tersebut, kehidupan Korowai perlahan mengalami perubahan. Pariwisata berbasis ekspedisi ke rumah pohon menjadi salah satu sumber pendapatan baru, meski dampaknya menuai perdebatan. Sejumlah pemandu wisata dilaporkan membangun rumah pohon buatan yang lebih tinggi dari kebiasaan asli semata untuk menarik wisatawan, sebuah praktik yang mengaburkan gambaran autentik tentang cara hidup masyarakat Suku Korowai sesungguhnya.

Pemerintah daerah Kabupaten Boven Digoel dan Mappi, dua wilayah administratif yang menaungi sebagian besar permukiman Korowai, menghadapi tantangan besar dalam menghadirkan layanan pendidikan dan kesehatan yang layak. Medan rawa yang sulit dijangkau membuat distribusi tenaga pengajar dan tenaga medis menjadi persoalan berkepanjangan. Banyak anak Korowai belum mengenyam pendidikan formal, sementara akses terhadap fasilitas kesehatan dasar masih sangat terbatas sehingga angka kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, seperti malaria dan infeksi saluran pernapasan, masih tergolong tinggi.

Antara Pelestarian dan Perubahan

Sebagian keluarga Korowai kini mulai menetap di permukiman yang lebih permanen dekat aliran sungai besar, mengikuti program pemerintah yang menyediakan rumah kayu di atas tanah datar. Perpindahan ini membawa kemudahan akses layanan publik, tetapi juga memunculkan kekhawatiran hilangnya pengetahuan tradisional tentang hutan, sistem pertanian sagu, dan keterampilan membangun rumah pohon yang selama ini diwariskan turun-temurun.

Para peneliti antropologi menilai masa depan Korowai bergantung pada bagaimana pemerintah dan lembaga terkait mampu menghadirkan pembangunan tanpa menghapus identitas budaya mereka. Pendekatan yang melibatkan warga Korowai secara langsung dalam perencanaan program, mulai dari pendidikan berbasis bahasa ibu hingga pelatihan pemandu wisata yang menghormati tradisi asli, dinilai lebih mungkin menjaga keberlangsungan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kehidupan suku Korowai menjadi cerminan bagaimana masyarakat adat di pedalaman Papua terus bernegosiasi antara mempertahankan warisan leluhur dan beradaptasi dengan arus perubahan zaman yang datang dari luar hutan tempat mereka lahir dan besar.

 21,623 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Previous Post

Jangan Terburu-buru Mengejar Target Mandatori Bioetanol

Next Post

Panjat Pinang, Ruh Gotong Royong Yang Kian Pudar

admin

admin

Related Posts

Tokoh Islam Tiongkok Buka Pintu Dialog dengan Ormas NTB
Sosial Budaya

Tokoh Islam Tiongkok Buka Pintu Dialog dengan Ormas NTB

19 September 2026
Kunjungan Ormas Keagamaan NTB ke Ningxia, Menimba Pelajaran Toleransi dan Strategi Entaskan Kemiskinan dari Tiongkok
Sosial Budaya

Kunjungan Ormas Keagamaan NTB ke Ningxia, Menimba Pelajaran Toleransi dan Strategi Entaskan Kemiskinan dari Tiongkok

16 September 2026
Muhasabah Diri Ketika Ditimpa Bencana
Sosial Budaya

Muhasabah Diri Ketika Ditimpa Bencana

8 September 2026
HPN Lampung 2027: PWI, Sejarah, dan Ujian Inklusivitas
Sosial Budaya

HPN Lampung 2027: PWI, Sejarah, dan Ujian Inklusivitas

2 September 2026
Penerima PKH di Kelurahan Karijawa Diberhentikan, Diduga Terkait Judi Online
Sosial Budaya

Penerima PKH di Kelurahan Karijawa Diberhentikan, Diduga Terkait Judi Online

20 Agustus 2026
Panjat Pinang, Ruh Gotong Royong Yang Kian Pudar
Sosial Budaya

Panjat Pinang, Ruh Gotong Royong Yang Kian Pudar

16 Agustus 2026
Next Post
Panjat Pinang, Ruh Gotong Royong Yang Kian Pudar

Panjat Pinang, Ruh Gotong Royong Yang Kian Pudar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Bronson Meydi Anak Pantai Lakey, Juara Kejurnas Surfing 2026

Bronson Meydi Anak Pantai Lakey, Juara Kejurnas Surfing 2026

20 Oktober 2026
Menunggu Pansel Kursi Sekda Domp

Menunggu Pansel Kursi Sekda Domp

19 Oktober 2026
Darurat Karhutla, FABEM Desak Presiden Ambil Komando dan Pecat Pejabat yang Lalai

Darurat Karhutla, FABEM Desak Presiden Ambil Komando dan Pecat Pejabat yang Lalai

19 Oktober 2026
Pesan Bupati Bambang Kepada Pejabat Yang Dilantik

Bupati Bambang Firdaus Sebut Hanya 25 Persen Guru Kuasai Materi, Sekolah Negeri Ditinggalkan

17 Oktober 2026
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Pemasangan Iklan
  • Contact Us
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang NTB POST

© 2022 - Ntbpost.co - Developed by Tokoweb.co

  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
0
SHARES
900
VIEWS