Oleh : Idin/ntbpost.co
Setiap menjelang perayaan kemerdekaan RI 17 Agustus, biasanya di tiap desa dan kelurahan selalu ada sebatang pohon pinang dilumuri oli, berdiri tegak di lapangan, dikelilingi tawa dan sorak-sorai warga yang menunggu giliran memanjat. Panjat pinang selain menjadi hiburan tahunan juga merupakan simbol kerja sama yang diwariskan turun-temurun, sebuah cara sederhana namun sarat makna untuk mengajarkan bahwa hadiah di puncak hanya bisa diraih bila orang-orang di bawah rela saling menopang, mendorong, dan mengangkat sesama tanpa pamrih.
Namun belakangan ini, tradisi tersebut semakin sulit dijumpai di berbagai penjuru kabupaten Dompu. Lapangan yang dulu ramai dengan lomba panjat pinang kini lebih sering diisi kegiatan lain yang lebih praktis dan minim persiapan. Anak-anak muda mengenal panjat pinang hanya dari cerita orang tua atau unggahan video lama di media sosial, bukan dari pengalaman langsung berpeluh bersama tetangga.
Salah satu alasan paling nyata dari memudarnya tradisi ini adalah semakin langkanya pohon pinang itu sendiri. Dulu, pohon pinang tumbuh subur di pekarangan rumah dan kebun warga, mudah ditemukan dan ditebang untuk keperluan lomba tanpa membebani siapa pun.
Sekarang, lahan-lahan tersebut banyak beralih fungsi menjadi permukiman atau ditanami komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Akibatnya, panitia perayaan di berbagai desa harus berpikir dua kali sebelum menggelar lomba ini, sebab mencari batang pinang yang cukup tinggi dan kokoh kini bukan perkara mudah.
Kelangkaan pohon pinang ini mestinya menjadi perhatian bersama, bukan hanya persoalan teknis panitia lomba semata. Ada baiknya pemerintah desa maupun kabupaten mulai memikirkan program penanaman pinang secara khusus, baik untuk keperluan ekonomi warga maupun untuk menjaga keberlangsungan tradisi budaya seperti ini. Jika dibiarkan tanpa upaya pelestarian, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal panjat pinang lewat cerita, bukan pengalaman nyata.
Panjat pinang mengajarkan sesuatu yang jarang bisa didapat dari permainan modern: kerja sama fisik yang benar-benar melibatkan tubuh, keringat, dan kepercayaan pada orang lain. Saat seseorang memanjat di atas pundak temannya, ada keyakinan bahwa ia tidak akan dijatuhkan.
Saat kelompok bawah menahan beban berat demi mengangkat rekan mereka ke puncak, ada semangat rela berkorban yang jarang terlihat dalam aktivitas sehari-hari warga perkotaan maupun pedesaan yang kini serba individual.
Nilai gotong royong semacam ini sesungguhnya menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi masyarakat Dompu. Warga yang terbiasa bahu-membahu dalam lomba kecil seperti panjat pinang cenderung lebih mudah diajak bekerja sama dalam urusan yang lebih besar, mulai dari pembangunan fasilitas umum, penanganan bencana, hingga menjaga keamanan lingkungan. Tradisi ini, meski terlihat sederhana, sebenarnya menjadi latihan sosial yang membentuk karakter kolektif masyarakat.
Membangkitkan kembali semangat panjat pinang di Dompu bukan pekerjaan yang mustahil. Pemerintah daerah, tokoh adat, dan komunitas pemuda bisa berperan aktif menghidupkan kembali tradisi ini, misalnya dengan menjadikannya agenda tetap dalam perayaan hari besar nasional maupun acara adat setempat. Dukungan berupa penyediaan bibit pinang, edukasi kepada generasi muda tentang makna tradisi ini, serta promosi melalui kegiatan pariwisata budaya bisa menjadi langkah awal yang realistis.
Warga sendiri juga perlu didorong untuk melihat panjat pinang bukan sebagai kegiatan usang, melainkan warisan yang menyimpan pelajaran berharga tentang solidaritas. Ketika satu orang berhasil mencapai puncak dan mengambil hadiah, sesungguhnya seluruh kelompok di bawahnya turut merasakan kemenangan yang sama, karena keberhasilan itu lahir dari usaha bersama, bukan dari kekuatan satu orang saja.
Dompu memiliki modal budaya yang kuat untuk merawat tradisi semacam ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan bersama untuk menanam kembali pohon pinang, menghidupkan kembali lapangan-lapangan yang dulu ramai, dan mengajarkan pada anak cucu bahwa harapan yang paling manis sering kali diraih bukan sendirian, melainkan lewat pundak dan tangan sesama.
7,212 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











