DOMPU — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Dompu, Drs.H.Mokh. Nasuhi, M.Si mengingatkan, bencana kekeringan, gunung meletus, gempa, tanah longsor dan bencana lain yang terjadi saat ini harus disikapi dengan dua ikhtiar yakni ikhtiar lahiriah dan ikhtiar batiniah.
“Bencana adalah ujian sekaligus panggilan untuk melakukan muhasabah,” ungkap Drs.H.Mokh. Nasuhi M.Si, Ketua Umum MUI Kab. Dompu kepada NTB Post, Senin (7/9/2026) di Dompu.
Namun tambah Ketua MUI ini, kita tidak boleh gegabah mengatakan bahwa bencana tertentu pasti merupakan hukuman Allah kepada kelompok tertentu. Yang wajib dilakukan adalah mengambil pelajaran, memperbaiki diri, dan menolong sesama.
Ketua MUI ini juga mengutip firman Allah: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)
Menjawab pertanyaan tentang ikhtiar nyata yang harus dilakukan Ia mengatakan,
ketika kekeringan melanda saat ini, tindakan nyata kita adalah dengan menghemat penggunaan air, membuat cadangan air, distribusi air bersih, menjaga sumber mata air dan hutan.
Dan ketika gunung meletus seperti gunung Krakatau yang terjadi saat ini yakni dengan ikuti radius bahaya dan instruksi BPBD. “Segera mengungsi bila diperintahkan, gunakan masker atau kacamata ketika terjadi hujan abu,” ingatnya.
Ketua MUI yang juga Rais Syuriah NU ini juga menambahkan, ketika terjadi banjir tentunya tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan drainase dan menyiapkan jalur evakuasi. “Itulah salah satu ikhtiar lahiriah yang kita tempuh,” tuturnya.
Dia menghimbau untuk perbanyak istighfar dan ingat kepada Allah. Karena itu katanya, menghadapi kekeringan jangan hanya dengan membuat sumur, tetapi juga membuat manusia kembali dekat kepada Allah.
Jadikan masjid sebagai pusat kepedulian. Dalam keadaan bencana, masjid jangan hanya menjadi tempat shalat. Jadikan masjid sebagai pusat doa, pusat informasi, pusat pengumpulan bantuan, pusat distribusi air dan makanan, serta tempat menguatkan mental masyarakat.
“Orang yang memiliki kelebihan air membantu yang kekurangan. Yang memiliki makanan membantu yang kelaparan. Yang memiliki tenaga membantu yang lemah,” tandasnya.
Untuk itu H. Nasuhi berpesan, ketika alam sedang memberi peringatan, manusia jangan hanya panik tetapi harus taubat, muhasabah, ikhtiar, saling menolong, dan berdoa. (Uqy)
2,111 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini











