Tatkala suatu hari perusahaan pertambangan mineral memutuskan untuk meninggalkan bekas galiannya, akan banyak cerita yang ditulis oleh warga kabupaten Sumbawa Barat.
Oleh : Muhyiddin (Idin)
Setiap kali musim hujan tiba di wilayah kabupaten Sumbawa Barat (KSB), curahnya selalu tiba-tiba, lebat dan seringkali akibatkan banjir. Jereweh, sebuah kecamatan kecil di ujung barat pulau Sumbawa, dulu, hujan itu berarti satu peristiwa yang mengkhawatirkan karena beresiko terjadinya musibah longsor. Lereng-lereng yang terbuka karena aktivitas penggalian di bukit-bukit Batu Hijau mudah sekali ambrol ketika air turun deras, membawa lumpur ke sungai-sungai di bawahnya.
Peristiwa itu sudah menjadi kisah masa silam. Sekarang, ketika hujan turun, perempuan bernama Eli Ekawati 40 tahun justru bersyukur. Bukan karena longsor tidak lagi terjadi tapi, karena anyaman yang ia buat dari serat ijuk pohon aren itulah yang sebagian mencegahnya. Ribuan rol ijuk blanket buatan tangan warga seperti Eli Ekawati kini melapisi 799,53 hektare lereng reklamasi di area tambang Batu Hijau, milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).

Eli biasa dia disapa, tidak tahu istilah teknis seperti ‘erosi’, ‘sedimentasi’, atau ‘reklamasi progresif’. Yang dia ketahui adalah pekerjaannya nyata, penghasilannya bertambah, dan ijuk yang dulu dijadikan bahan sapu lantai kini punya nilai lebih. Sedikitnya 60 orang di Maluk, Taliwang, dan Jereweh bekerja dalam jaringan produksi yang sama. Setiap tahun, area reklamasi Batu Hijau menyerap 7.000 rol ijuk blanglet dan coconet, sekitar 180 rol per hektare.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya program ini dari PT AMMAN, kami dapat pekerjaan sehingga kebutuhan pokok keluarga banyak terbantu,” ungkap Eli Ekawati pekerja program ijuk blanket di Jereweh yang mengaku pernah mendapatkan didikan untuk memintal ijuk blangket.
Inilah paradoks Batu Hijau yang menarik untuk ditelusuri, sebuah operasi penambangan berskala industri, yang setiap harinya memproses hampir 100.000 ton bijih mineral secara perlahan membangun reputasi sebagai salah satu contoh pertambangan yang paling serius dalam memikul tanggung jawab terhadap lingkungannya. Dan yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan itu bukan mesin berat, tetapi tangan-tangan lembut kaum ibu dari desa-desa sekitar tambang.
Lereng yang Kembali Bernafas
Ada sebuah metrik yang jarang digunakan untuk mengukur keberhasilan reklamasi tambang yaitu apakah pohon-pohon yang tumbuh di atas lahan bekas galian itu lebih rapat daripada hutan alami di sekitarnya ? Di Batu Hijau, jawabannya, “ya”.
Pemantauan oleh pihak ketiga mencatat kerapatan pohon di lahan reklamasi AMMAN melampaui 625 pohon per hektare, angka yang melampaui rata-rata hutan alami di kawasan sekitarnya. Sejak penambangan pertama dimulai pada 1997 hingga akhir 2025, perusahaan telah mereklamasi 859,61 hektare lahan, dengan rekor tahunan tercatat pada 2025, seluas 92,67 hektare, tertinggi sepanjang sejarah operasi Batu Hijau.

Lebih dari 1,53 juta pohon telah tertancap di tanah yang pernah terbuka. Mereka terdiri dari 99 varian bibit, mayoritas tanaman endemik khas Sumbawa Barat, bukan pohon-pohon cepat tumbuh yang sekadar memberi kesan hijau dari udara.
AMMAN menggunakan drone dan citra satelit yang dianalisis dengan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) suatu teknik yang sama dipakai ilmuwan untuk memantau laju deforestasi Amazonia dari luar angkasa, untuk membuktikan bahwa pohon yang tumbuh di Batu Hijau adalah pohon yang sungguh-sungguh bukan seremoni.
Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Julmansyah, pernah menyebut bahwa pendekatan ini menjadikan AMMAN sebagai pelopor penerapan NDVI di sektor pertambangan Indonesia. Manfaat ekologisnya terasa berlapis karena kualitas udara membaik, habitat terbentuk untuk flora dan fauna yang sempat terusir, serta sedimentasi sungai berkurang.
“Kami melakukannya dengan serius dan berbasis riset. Reklamasi berarti membentuk lereng yang stabil, mengembalikan fungsi kawasan sebagai penyangga air, dan memulihkan flora serta fauna endemik yang menjadi identitas wilayah ini.” ujar Dinar Puja Ginanjar, Senior Manager Corporate Communications PT AMMAN
Di Desa Tongo, program Community Nursery, pembibitan berbasis komunitas telah memasok sekitar 145.000 bibit tanaman endemik, dengan 98.000 di antaranya dikirim hanya dalam satu tahun terakhir. Program ini membuka pendapatan bagi puluhan warga, sebagian besar ibu rumah tangga. Pada 2023, ia meraih penghargaan Subroto Awards dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Rencana penutupan dan reklamasi Batu Hijau disusun bukan ketika tambang hampir habis, melainkan sejak tahap eksplorasi jauh sebelum sebutir pun bijih ditambang. “Ini bukan karena adanya kewajiban regulasi. Tapi dilakukan karena sebuah pilihan,” sebutnya.
Delapan Pulau dan Seekor Penyu
Jika Anda berlayar ke barat laut dari pesisir Sumbawa, sebelum matahari tergelincir ke cakrawala Selat Lombok, anda akan menemukan gugus pulau kecil bernama Gili Balu. Airnya jernih seperti kaca. Di bawah permukaannya, terumbu karang menyimpan keanekaragaman hayati yang oleh para penyelam kerap menyebutnya sebagai salah satu yang terbaik tersembunyi di NTB.

AMMAN memutuskan bahwa kawasan ini, delapan pulau kecil yang jauh dari area tambang juga masuk dalam lingkup tanggung jawab perusahaan. Melalui program Transformasea, perusahaan mengelola kawasan konservasi di seluruh gugusan Gili Balu dengan membangun terumbu karang buatan, menjalankan program konservasi penyu, dan memantau keanekaragaman hayati bawah laut secara berkala.
Yang membuat program ini lebih dari program proyek konservasi konvensional adalah keterlibatan warga pesisir dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Laut yang sehat menjadi aset wisata. Aset wisata menghasilkan pendapatan. Pendapatan memberi insentif bagi warga untuk menjaga laut itu tetap sehat, menjadi lingkaran yang saling menopang.
Di darat, kemitraan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB memperluas perlindungan keanekaragaman hayati di kawasan perbukitan Sumbawa Barat. Rehabilitasi daerah aliran sungai mencakup sekitar 3.600 hektare, wilayah yang jauh lebih luas dari area tambang itu sendiri.
Sampah yang Mengajarkan
Sebuah eksperimen kecil sedang berlangsung di Kecamatan Sekongkang. Lebih dari 125 keluarga mengolah sampah organik rumah tangga menjadi produk bernilai jual. Hingga 2025, puluhan ribu kilogram sampah berhasil dikelola. Angkanya terlihat sederhana dibanding skala operasi tambang di sebelahnya. Tapi yang sedang terjadi di Sekongkang jauh lebih dalam dari pengelolaan sampah, ini merupakan pendidikan tentang cara memandang dunia.
Ketika seseorang belajar bahwa sisa makanan kemarin bisa menjadi pupuk hari ini, sesuatu berubah dalam cara dia memperlakukan lingkungannya. Perubahan itu sulit diukur dalam ton atau hektare. Tapi ini nyata, dan bertahan lama.
Pada skala yang lebih terukur, April 2026, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan predikat PROPER Hijau kepada AMMAN. Dari 5.476 perusahaan yang dievaluasi di 299 sektor industri, dengan peningkatan cakupan 22 persen dibanding tahun sebelumnya, hanya 243 yang meraih predikat Hijau. AMMAN ada di antara mereka.

“Proper adalah alat pengawasan sekaligus pembinaan guna mendorong perusahaan untuk sungguh-sungguh memenuhi ketentuan lingkungan, jauh melampaui ambang batas minimum.” ungkap Rasio Ridho Sani, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, KLH.
Perihal Air dan Kesabaran
Ada hal yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah tinggal di kawasan yang airnya bergantung pada kondisi hutan di hulu. Air adalah kesabaran yang mengalir, tidak datang dari keran namun hadir dari pohon-pohon yang menahan hujan agar tidak langsung meluncur ke laut, dari tanah yang cukup gembur untuk menyimpan air sampai musim kemarau, dari lereng-lereng yang tidak longsor ketika hujan deras tercurah.
Itulah mengapa setiap pohon yang ditanam di lahan reklamasi Batu Hijau adalah juga investasi air. Rehabilitasi daerah aliran sungai seluas 3.600 hektare yang dijalankan PT AMMAN bukan proyek lingkungan yang berdiri sendiri akan tetapi menjadi jaminan bahwa sungai-sungai kecil yang mengalir dari bukit ke desa-desa di bawahnya akan tetap mengalir, jernih, musim demi musim.
Ijuk blanket dan coconut yang dipintal Eli Ekawati dan kawan-kawannya berfungsi di dua tingkatan yakni sekaligus mencegah lereng longsor dan mencegah lumpur masuk ke aliran sungai. Dua fungsi, satu anyaman. Itulah logika yang menjalankan seluruh program konservasi air AMMAN, bahwa segala sesuatu terhubung karena menjaga satu bagian berarti menjaga keseluruhannya.
Dokumen keberlanjutan AMMAN, termuat komitmen yang jarang terdengar dari perusahaan tambang manapun bahwa, pada akhir siklus hidup Batu Hijau, setiap hektare lahan yang dibuka akan dipulihkan ke kondisi yang secara ekologis setara dengan kawasan yang tidak pernah tersentuh. Bahkan rehabilitasi daerah aliran sungai di luar batas lokasi tambang pun masuk dalam komitmen itu.
Ketika Matahari Masuk ke Kalkulasi
Tambang berskala Batu Hijau tidak pernah bisa disebut hemat energi. Mesin penggali, truk-truk pengangkut raksasa, pabrik pengolah yang berputar dua puluh empat jam, semuanya haus listrik. Selama bertahun-tahun, kebutuhan itu dipenuhi hampir sepenuhnya oleh pembangkit berbahan bakar fosil.
Sejak 2022 semuanya mulai berubah. Pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 26,8 megawatt peak kini beroperasi di Batu Hijau. Sepanjang 2025, PLTS itu membantu menghindari emisi sekitar 34.794 ton setara karbon dioksida, angka yang setara dengan emisi tahunan sekitar 7.500 kendaraan pribadi.
Langkah ambisius berikutnya adalah, combined cycle power plant atau Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap/PLTGU berbahan bakar gas alam cair yang dirancang untuk mendukung ekspansi operasi sekaligus memangkas jejak karbon secara signifikan. Di industri pertambangan Indonesia, yang selama ini identik dengan konsumsi energi kotor berskala besar, transisi semacam ini masih terhitung langka.
AMMAN menyebutnya sebagai bagian dari perjalanan menuju operasi rendah karbon. Bukan titik akhir, melainkan arah yang dipilih.
Apa yang Ditinggalkan ?
Ada sesuatu yang nampak unik dalam bisnis pertambangan yakni cara menghidupi diri dari sesuatu yang akan habis. Batu Hijau, seperti semua tambang di dunia, punya masa berlakunya. Suatu hari kelak, mesin-mesin itu akan berhenti. Truk-truk itu akan diparkir untuk terakhir kalinya hingga yang tersisa hanyalah tanah.
AMMAN tampaknya memilih untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tidak sering dipilih perusahaan seukurannya. Lima jalur program lingkungan yang berjalan bersamaan diantaranya, reklamasi progresif, perlindungan keanekaragaman hayati, pengendalian pencemaran, konservasi air, dan transisi energi. Itu bukan daftar kegiatan CSR yang disusun untuk menyenangkan regulator. Tetapi menjadi arsitektur jangka panjang bagi sebuah perusahaan yang sadar bahwa reputasi paling berharga dari tambang bukan diukur atas berapa ton tembaga yang berhasil dikeruk, melainkan bagaimana kondisi tanah yang ditinggalkan setelah aktivitas penambangan itu berakhir.
Angka-angkanya berbicara sendiri, 859 hektare lahan yang kembali menghijau, lebih dari 1,53 juta pohon yang berakar dan rimbun, 3.600 hektare daerah aliran sungai yang direhabilitasi, 34.794 ton emisi yang tidak terjadi, delapan pulau yang dikonservasi, lebih dari 125 keluarga yang mengubah sampah menjadi penghasilan, dan ratusan perempuan yang mengubah ijuk dan sabut kelapa menjadi lapangan kerja.
Eli Ekawati, yang sejak tadi duduk di antara gulungan Ijuk Blangket di Jereweh, mungkin tidak akan pernah membaca laporan keberlanjutan setebal itu. Tapi ia merasakan implikasinya setiap kali hujan turun deras dan lereng di atas desanya tidak ambrol. Setiap kali air sungai di hilir masih jernih. Setiap kali upahnya cukup untuk membeli beras bulan ini.
Bagi Eli, itulah ukuran yang paling jujur, apakah tanah yang dipinjam perusahaan itu benar-benar sedang dikembalikan. Sejauh yang bisa dilihat dari Jereweh pada musim hujan lalu, jawabannya adalah iya. (Idin)
7,949 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











