JAKARTA — Satu tahun lalu, neraca PT Amman Mineral Internasional Tbk (IDX: AMMN) masih berwarna merah. Kuartal pertama 2025, perusahaan tambang tembaga dan emas ini mencatat rugi bersih US$138 juta, dengan penjualan bersih yang nyaris tak berarti hanya US$2 juta.
Setahun kemudian, ceritanya berubah total. AMMAN membukukan laba bersih US$163 juta dan penjualan bersih US$808 juta pada kuartal pertama 2026. Sepertinya perusahaan ini sudah melangkah menuju cita-citanya menjadi produsen tembaga-emas terintegrasi penuh dari tambang hingga pemurnian.
Kebijakan Hilirisasi Mengubah Peta Bisnis
Untuk memahami lonjakan kinerja AMMAN, perlu ditarik mundur ke kebijakan hilirisasi mineral yang berlaku sejak awal 2025. Ketika itu, pemerintah hanya mengizinkan perusahaan menjual produk logam jadi, katoda tembaga dan emas murni, bukan lagi konsentrat mentah seperti sebelumnya.
Kebijakan ini memaksa AMMAN mengandalkan sepenuhnya smelter dan precious metal refinery (PMR) yang baru saja rampung dibangun, sementara fasilitas tersebut masih dalam tahap ramp-up dan belum mampu menyerap seluruh produksi konsentrat dari tambang Batu Hijau.
Hasilnya bisa ditebak bahwa perusahaan merugi. Konsentrat menumpuk, smelter belum optimal, dan pendapatan nyaris tak ada karena perusahaan tak lagi bisa menjual bahan mentahnya ke pasar internasional.
Titik balik datang pada 31 Oktober 2025, saat pemerintah memberikan izin ekspor konsentrat sementara kepada AMMAN dengan kuota 480.000 metrik ton kering, berlaku enam bulan hingga 30 April 2026. Keran ekspor yang terbuka kembali inilah yang menjadi motor utama pemulihan kinerja perusahaan sepanjang kuartal IV 2025 hingga kuartal I 2026.
“Kami mengawali tahun 2026 dengan eksekusi yang kuat dan kinerja operasional yang solid di seluruh lini bisnis,” kata Direktur Utama PT AMMAN,Arief Widyawan Sidarto, dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi media ini.
Membaca Angka di Balik Pemulihan
Data operasional AMMAN pada kuartal pertama 2026 menunjukkan lonjakan yang jauh melampaui ekspektasi pertumbuhan biasa. Produksi konsentrat melonjak 110% secara tahunan menjadi 167.792 metrik ton kering, dengan kandungan sekitar 101 juta pon tembaga dan 136.115 ons emas, masing-masing naik 173% dan 321% dibanding kuartal pertama 2025.
Lonjakan ini diakibatkan adanya perubahan struktural di lapangan yakni, aktivitas penambangan di tambang Batu Hijau yang mulai memasuki fase transisi penting, dari Fase 8 yang semula difokuskan pada pengupasan lapisan batuan penutup, menuju ekstraksi bijih segar secara penuh.
Volume bijih segar yang ditambang melonjak drastis, dari hanya 1 juta ton pada kuartal pertama 2025 menjadi 38 juta ton pada periode yang sama tahun ini. Kadar bijih pun membaik signifikan, kadar tembaga naik dari 0,31% menjadi 0,53%, dan kadar emas dari 0,17 gram per ton menjadi 0,54 gram per ton.
Namun pemulihan ini punya harga. Biaya penambangan per unit naik 29% secara tahunan menjadi US$3,25 per ton, akibat jarak angkut yang memanjang seiring perkembangan tambang, kenaikan harga bahan bakar, dan penurunan total material yang digali dari 70 juta ton menjadi 56 juta ton.
Ini mengindikasikan bahwa efisiensi operasional AMMAN belum sepenuhnya linear dengan pertumbuhan produksinya karena ada biaya struktural yang harus ditanggung seiring tambang bergerak semakin dalam ke fase-fase baru.
Smelter yang Belum Berlari Penuh
Di sisi hilir, gambaran yang muncul lebih rumit. Fasilitas smelter dan PMR AMMAN memang telah menghasilkan 27.670 ton katoda tembaga dan 66.209 ons emas murni sepanjang kuartal ini, tetapi angka tersebut masing-masing baru mencerminkan tingkat produksi rata-rata 50% dan 46% dari kapasitas terpasang.
Disebutkan bahwa pemeliharaan tahunan smelter yang dijalankan pada kuartal ini turut menekan output, bersamaan dengan strategi menjual sebagian konsentrat langsung lewat jalur ekspor ketimbang memprosesnya di dalam negeri.
Ini sesungguhnya menggambarkan dilema operasional yang dihadapi AMMAN: di satu sisi harus memaksimalkan pemanfaatan izin ekspor yang bersifat sementara dan akan berakhir 30 April 2026, di sisi lain harus menjaga ramp-up smelter tetap berjalan menuju stabilitas penuh.
Arief mengaku, manajemen sengaja tidak akan menghabiskan kuota ekspor 480.000 metrik ton kering secara penuh, karena sebagian konsentrat perlu dialokasikan untuk mendukung proses ramp-up tersebut. Uji jaminan kinerja smelter dan PMR di beberapa area utama disebut telah rampung, dengan sisa pengujian ditargetkan tuntas Juli 2026.
Anatomi Pemulihan Finansial
Kombinasi kembalinya ekspor konsentrat, volume penjualan yang lebih tinggi, dan harga logam yang membaik mendorong penjualan bersih AMMAN melesat ke US$808 juta pada kuartal pertama 2026. Rinciannya: US$391 juta dari katoda tembaga, US$82 juta dari emas murni, dan US$334 juta dari penjualan konsentrat, porsi konsentrat yang cukup besar ini menegaskan betapa krusialnya izin ekspor bagi pemulihan pendapatan perusahaan.
EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) berbalik dari negatif US$42 juta menjadi US$508 juta, dengan margin EBITDA 63%, angka yang tergolong tinggi untuk industri pertambangan logam dasar. Artinya mrgin laba bersih tercatat 20%.
Yang menarik, belanja modal AMMAN justru menurun tajam, 68% secara tahunan dari US$360 juta menjadi US$114 juta. Penurunan ini bukan tanda pelambatan ekspansi, melainkan sinyal bahwa proyek-proyek besar perusahaan sudah mendekati garis finis dan tak lagi membutuhkan pengeluaran modal sebesar tahun-tahun konstruksi awal.
Dari sisi neraca, total utang AMMAN per 31 Maret 2026 tercatat US$6,476 miliar, relatif stabil dibanding akhir 2025. Dengan kas dan setara kas US$815 juta, utang bersih perusahaan mencapai US$5,662 miliar, turun tipis 2% dari posisi Desember 2025. Struktur jatuh tempo utang, menurut manajemen, sengaja disusun terkonsentrasi di akhir masa pinjaman untuk mendukung rencana ekspansi jangka panjang.
Tiga Proyek yang Akan Menentukan Masa Depan AMMAN
Dari langkah pemulihan jangka pendek, ada taruhan jangka panjang yang jauh lebih besar sedang dipersiapkan AMMAN yakni, transformasi menjadi produsen tembaga-emas terintegrasi penuh dengan kapasitas yang berlipat ganda.
Proyek pertama adalah ekspansi pabrik konsentrator, yang akan menggandakan kapasitas input dari kondisi saat ini menjadi sekitar 85 juta ton per tahun. Ekspansi ini menjadi kunci karena akan memungkinkan pabrik memproses pasokan bijih dari Fase 8 Batu Hijau sekaligus dari proyek Elang di masa depan. Komisioning dijadwalkan dimulai dengan pemasukan bijih pertama pada Juli 2026.
Proyek kedua adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) berkapasitas 450 MW yang dilengkapi fasilitas regasifikasi LNG dan kini sudah beroperasi setelah menerima kargo pertama dari Pertamina pada September 2025. CCPP Blok 2 telah memasok listrik stabil ke smelter, sementara CCPP Blok 1 disiapkan mendukung komisioning ekspansi pabrik konsentrator pada semester kedua 2026.
Ketiga, dan mungkin yang paling strategis dalam jangka panjang, adalah proyek Elang, calon penerus tambang Batu Hijau yang cadangannya mulai menipis. Berdasarkan kode JORC per 31 Desember 2024, cadangan bijih Elang tercatat 2.526 juta ton dengan kandungan 17,78 miliar pon tembaga dan 26,44 juta ons emas, jauh melampaui sisa cadangan Batu Hijau sebesar 705 juta ton.
Elang dirancang memanfaatkan infrastruktur eksisting Batu Hijau—pabrik konsentrator, smelter, pelabuhan Benete, hingga primary access road—dengan bijih diangkut melalui sistem overland conveyor sepanjang 54 kilometer. Studi Kelayakan Elang 2025 telah dirampungkan, meski sejumlah kajian optimisasi teknis, termasuk relokasi stasiun primary crushing dan redesain kolam pengendali sedimen, masih berlangsung untuk menekan biaya konstruksi.
Ketiga proyek ini, jika berjalan sesuai rencana, akan mendorong total kapasitas input tahunan smelter tembaga dan PMR AMMAN mencapai 900.000 metrik ton konsentrat, dengan output katoda tembaga hingga 220.000 ton dan asam sulfat hingga 830.000 ton per tahun.
Bayang-Bayang Berakhirnya Izin Ekspor
Meski kinerja kuartal pertama menggembirakan, AMMAN menghadapi ujian penting dalam waktu dekat adalah izin ekspor konsentrat sementara yang menjadi penopang utama pendapatan kuartal ini berakhir pada 30 April 2026. Setelahnya, perusahaan kembali harus bergantung sepenuhnya pada kapasitas smelter dan PMR domestik untuk menjual produknya, sementara kedua fasilitas itu, seperti tercermin dari tingkat produksi rata-rata masih di kisaran 46-50%, belum sepenuhnya matang.
Management komitmennya mematuhi kebijakan hilirisasi pemerintah dan memfokuskan diri pada peningkatan produksi smelter secara bertahap, aman, dan sesuai ketentuan, melalui evaluasi ketat serta koordinasi berkelanjutan dengan pemerintah.
Konsekuensinya, perusahaan bahkan belum berani memberikan panduan produksi katoda tembaga dan emas murni untuk sepanjang tahun 2026, sebuah pengakuan implisit bahwa jalan menuju stabilitas smelter masih memiliki ketidakpastian.
Untuk kegiatan penambangan sendiri, AMMAN mempertahankan panduan produksi 2026 sebesar 900.000 metrik ton kering konsentrat, mengandung 485 juta pon tembaga dan 579.000 ons emas. Dari jumlah itu, 500.000 metrik ton kering diharapkan berasal dari pabrik konsentrator eksisting, sementara 400.000 metrik ton kering sisanya bergantung pada kemajuan komisioning pabrik konsentrator baru—sebuah proyek yang, seperti diakui perusahaan sendiri, membawa risiko eksekusi khas fasilitas baru yang tengah ramp-up.
Faktor Eksternal yang Tak Bisa Diabaikan
Di luar tantangan internal, AMMAN juga menghadapi tekanan dari dinamika global. Arief menyebut konflik yang berlangsung di Timur Tengah telah berkontribusi terhadap kenaikan biaya energi dan sejumlah biaya operasional lainnya sejak Maret 2026. Bagi perusahaan yang sedang membangun ketergantungan besar pada pasokan gas dan listrik untuk mendukung smelter serta ekspansi pabrik konsentratornya, fluktuasi harga energi global menjadi variabel yang harus terus dipantau.
Meski demikian, manajemen tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang komoditas andalannya. “Kami yakin bahwa prospek jangka panjang tembaga dan emas tetap kuat, sehingga menempatkan AMMAN pada posisi yang baik untuk pertumbuhan berkelanjutan,” ujar Arief.
Menuju Juli 2026: Titik Kritis Ganda
Jika ditelusuri, Juli 2026 muncul berulang kali sebagai penanda waktu penting bagi AMMAN, bulan yang sama disebut sebagai target penyelesaian uji jaminan kinerja smelter dan PMR yang tersisa, sekaligus jadwal dimulainya pemasukan bijih pertama ke pabrik konsentrator baru.
Dua peristiwa ini akan menjadi ujian nyata apakah investasi besar-besaran AMMAN dalam infrastruktur hilirisasi selama beberapa tahun terakhir benar-benar mampu menggantikan peran ekspor konsentrat yang selama ini menjadi penopang pendapatan. (Idin)
9,165 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











