• Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Pemasangan Iklan
  • Contact Us
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang NTB POST
  • Login
NtbPost.co
  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi
No Result
View All Result
NtbPost.co
No Result
View All Result
Home Teknologi

Yusril: Ada Upaya Negara Luar Mencegah Indonesia Jadi Negara Maju, Dimulai dari Penghentian Dana PT Nurtanio

admin by admin
21 Agustus 2026
in Teknologi
0
Yusril: Ada Upaya Negara Luar Mencegah Indonesia Jadi Negara Maju, Dimulai dari Penghentian Dana PT Nurtanio

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra

123
SHARES
6k
VIEWS
Bagikan di WhatsAppBagikan di Facebook

Article ini disusun berdasarkan pernyataan publik Yusril Ihza Mahendra dalam forum di Universitas Negeri Surabaya, Mei 2026, serta pemberitaan sejumlah media pers.

Oleh : Muhyiddin/ntbpost.co

BERITA TERKAIT

AMMAN Torehkan Prestasi Digital, Raih Penghargaan Bergengsi dari SAP

Babak Baru AMMAN: Dari Rugi ke Untung, Menyusuri Jalan Panjang Menuju Hilirisasi Penuh

Laju Inovasi di Jantung Tambang Batu Hijau

JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra kembali menyoroti dugaan upaya sistematis negara-negara asing untuk menahan laju kemajuan dalam negeri. Pernyataan ini disampaikannya saat merespons kritik media internasional The Economist terhadap sejumlah program prioritas pemerintah yang dinilai membebani fiskal negara, dalam sebuah forum di Universitas Negeri Surabaya, akhir Mei lalu.

Yusril menilai kritik semacam itu menyimpan agenda tersembunyi, yakni melemahkan posisi tawar Indonesia dan mendorong negeri ini kembali ke pola lama sebagai pengekspor bahan mentah, dan menjauhkannya dari status produsen barang bernilai tambah tinggi.

“Tidak ada bangsa di dunia ini yang suka melihat Indonesia tetap kuat, tumbuh, dan berkembang,” tegasnya, sembari menyebut kritik itu pada akhirnya mengarah pada keinginan mengembalikan struktur ekonomi Indonesia ke masa lampau.

Untuk memperkuat argumennya, Yusril mengajak publik menengok kembali peristiwa krisis moneter 1997-1998, mengenang bagaimana di era Presiden Soeharto, ekonomi Indonesia sempat tumbuh hingga 8 persen dan negeri ini nyaris menyandang status “Macan Asia”, sejajar dengan kekuatan-kekuatan ekonomi utama.

Momentum itu terhenti mendadak. Krisis finansial menghantam nilai tukar rupiah hingga jatuh ke titik terendah. Saat kepanikan melanda, International Monetary Fund (IMF) datang menawarkan bantuan berupa paket pinjaman senilai US$43 miliar untuk lima tahun melalui Letter of Intent. Yusril, yang saat itu menjabat sebagai penulis pidato kepresidenan dan mengaku menjadi saksi sejarah bersama Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, menyebut bantuan tersebut datang dengan sejumlah syarat berat.

Salah satu syarat yang menurutnya paling krusial adalah penghentian pendanaan terhadap industri penerbangan dalam negeri yang saat itu dikelola oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN),  perusahaan yang mulanya berdiri dengan nama PT Nurtanio sebelum berganti nama menjadi IPTN pada 1985, dan kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Proyek ambisius itu dipimpin oleh B.J. Habibie.

Yusril menggambarkan situasi Indonesia kala itu seperti bayi yang baru lahir dan belum dewasa, dipaksa masuk ke dalam “inkubator” bantuan IMF. Pertolongan itu, katanya, datang dengan permintaan agar dana pengembangan IPTN ditahan, syarat yang akhirnya harus dipenuhi Soeharto demi menyelamatkan perekonomian nasional yang saat itu di ambang kolaps.

Keputusan menghentikan pendanaan IPTN, menurut Yusril, merupakan bagian dari pola yang lebih besar, keengganan negara-negara Barat membiarkan Indonesia naik kelas menjadi negara berteknologi maju. Dia merenung, seandainya pendanaan IPTN tidak dihentikan, Indonesia mungkin sudah mampu memproduksi pesawat tempur sendiri hingga hari ini.
Lanjut Yusril, ada upaya yang sengaja dilakukan untuk menggagalkan potensi tersebut, dan mendorong masyarakat memahami pola ini agar tidak berulang di masa kini.

Dari kisah lama itu, Yusril menarik pelajaran untuk konteks kekinian. Dia mengingatkan publik agar tidak mudah terpengaruh narasi asing yang berpotensi mendiskreditkan visi dan program pemerintah, termasuk kritik-kritik seperti yang dilontarkan The Economist belakangan ini.

Menurutnya, kedaulatan ekonomi dan kemandirian teknologi merupakan dua pilar yang mesti dikejar Indonesia agar bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dan lepas dari ketergantungan pada cara pandang pihak luar.

Mantan Menteri Kehakiman di era Presiden Megawati Soekarnoputri ini mengajak semua pihak untuk tidak menggantungkan nasib bangsa kepada pihak lain, serta menghindari sikap meremehkan bangsa sendiri sembari memuji-muji bangsa lain, adalah mentalitas yang paling berbahaya bagi sebuah bangsa yang ingin maju.

Pernyataan Yusril menambah panjang daftar narasi tentang keterkaitan antara intervensi lembaga keuangan internasional pasca-krisis 1998 dengan mandeknya sejumlah proyek strategis Indonesia, termasuk industri kedirgantaraan nasional yang sempat digadang-gadang sebagai kebanggaan teknologi bangsa di era 1990-an.

 5,942 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Previous Post

Harga Cabai dan Ayam Naik di Pasar Bawah Dompu, Tomat Melonjak 50 Persen

Next Post

Eksistensi Wakil Kepala Daerah Dalam Siatem Ketatanegaraan Indonesia, Antara Penguatan dan Penghapusan (2)

admin

admin

Related Posts

AMMAN Torehkan Prestasi Digital, Raih Penghargaan Bergengsi dari SAP
Teknologi

AMMAN Torehkan Prestasi Digital, Raih Penghargaan Bergengsi dari SAP

27 Agustus 2026
Babak Baru AMMAN: Dari Rugi ke Untung, Menyusuri Jalan Panjang Menuju Hilirisasi Penuh
Teknologi

Babak Baru AMMAN: Dari Rugi ke Untung, Menyusuri Jalan Panjang Menuju Hilirisasi Penuh

14 Juli 2026
Laju Inovasi di Jantung Tambang Batu Hijau
Teknologi

Laju Inovasi di Jantung Tambang Batu Hijau

14 Juli 2026
Euforia Tambang Rakyat dan Ancaman Warisan Lingkungan
Teknologi

Euforia Tambang Rakyat dan Ancaman Warisan Lingkungan

7 April 2026

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

2 Maret 2022

Shadow Tactics: Blades of the Shogun Review

1 Maret 2022
Next Post
Eksistensi Wakil Kepala Daerah dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Antara Penguatan dan Penghapusan (1)

Eksistensi Wakil Kepala Daerah Dalam Siatem Ketatanegaraan Indonesia, Antara Penguatan dan Penghapusan (2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Penambangan Liar Kian Marak di Kecamatan Pajo, Dompu

Penambangan Liar Kian Marak di Kecamatan Pajo, Dompu

4 September 2026
Anak Pantai Lakey Menuju Asian Games: Kisah Emas Bronson Meidy

Anak Pantai Lakey Menuju Asian Games: Kisah Emas Bronson Meidy

3 September 2026
HPN Lampung 2027: PWI, Sejarah, dan Ujian Inklusivitas

HPN Lampung 2027: PWI, Sejarah, dan Ujian Inklusivitas

2 September 2026
Dirangkai UKW, PWI NTB Gelar OKK Perdana Untuk Seluruh Anggota

Dirangkai UKW, PWI NTB Gelar OKK Perdana Untuk Seluruh Anggota

1 September 2026
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Pemasangan Iklan
  • Contact Us
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang NTB POST

© 2022 - Ntbpost.co - Developed by Tokoweb.co

  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
0
SHARES
900
VIEWS