DOMPU – Hasil buruk yang diraih kontingen Kabupaten Dompu pada perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 menyisakan keprihatinan mendalam bagi kalangan senior olahraga dan tokoh masyarakat setempat. Minimnya perolehan medali serta lemahnya daya saing atlet Dompu di berbagai cabang olahraga memunculkan desakan agar KONI Dompu segera berbenah secara menyeluruh, mulai dari tata kelola organisasi hingga pembinaan atlet.
Keprihatinan ini disuarakan langsung oleh mantan atlet bola voli Dompu, H. Muhammad Alexander. Katanya, kegagalan yang dialami kontingen Dompu kali ini harus dijadikan momentum introspeksi bagi seluruh jajaran pengurus olahraga daerah.
“Ini harus jadi bahan evaluasi serius. KONI Dompu perlu segera mengevaluasi semua aspek, baik dari sisi manajemen organisasi, pengelolaan keuangan, kualitas kepelatihan, sampai pada keikutsertaan cabang-cabang olahraga di setiap event,” ujar Alexander.
Ia menegaskan, prestasi olahraga tidak bisa dibangun secara instan menjelang pelaksanaan even semata. Dibutuhkan program pembinaan yang berkesinambungan, dukungan anggaran yang memadai, serta pelatih-pelatih yang benar-benar kompeten di bidangnya masing-masing.
“Kalau ingin atlet kita berprestasi, pembinaannya harus jangka panjang. Jangan baru sibuk menyiapkan atlet ketika even sudah dekat,” tambahnya.

Ajakan Untuk Belajar dari Filosofi Kaca Depan dan Kaca Spion
Senada dengan Alexander, seorang tokoh kenamaan yang juga mantan Bupati Dompu dua periode H. Bambang Yasin (HBY) turut angkat bicara. Ia mengajak seluruh elemen, baik pengurus KONI, pemerintah daerah, maupun masyarakat olahraga Dompu, untuk duduk bersama melakukan evaluasi menyeluruh guna merumuskan langkah perbaikan yang lebih terarah ke depan.
Dalam padangannya, HBY menggunakan analogi kaca depan mobil dan kaca spion sebagai pengingat bagaimana seharusnya sikap menghadapi kegagalan ini.
“Kita perlu belajar dari ilmu kaca depan mobil dan kaca spion. Kaca depan itu besar dan luas karena memang untuk melihat jauh ke depan, sementara kaca spion kecil dan sempit karena fungsinya hanya sesekali menoleh ke belakang. Artinya, masa lalu boleh jadi pelajaran, tapi jangan sampai kita terlalu lama terpaku menyesali kegagalan. Fokus utama kita harus pada perencanaan dan langkah besar ke depan,” tuturnya.
Dia menambahkan, evaluasi yang dilakukan sebaiknya tidak berhenti pada pencarian kesalahan semata, melainkan menghasilkan roadmap pembinaan olahraga Dompu yang lebih matang dan terukur.
“Evaluasi ini penting bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi untuk merumuskan rencana yang lebih baik. Semua pihak harus terlibat, mulai dari pengurus cabang olahraga, pelatih, pemerintah daerah, sampai masyarakat pencinta olahraga,” pungkasnya.
Momentum Persiapan Jangka Panjang Menuju PON NTB-NTT 2028
Kegagalan di Porprov XII ini oleh kedua tokoh senior justru diarahkan sebagai bahan bakar persiapan menghadapi ajang yang lebih besar, yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) NTB-NTT 2028. Menurut mereka, waktu yang tersisa menuju PON harus benar-benar dimanfaatkan Dompu untuk membenahi fondasi olahraga daerah secara mendasar, juga sekaligus menambal kekurangan yang terlihat saat ini.
H. Muhammad Alexander menekankan pentingnya pemetaan potensi atlet muda Dompu sejak dini agar proses pembinaan menuju PON 2028 tidak dimulai dari nol menjelang hari pelaksanaan.
“Waktu menuju PON 2028 itu masih ada beberapa tahun. Ini kesempatan emas bagi Dompu untuk membangun sistem pembinaan atlet usia dini secara serius, memperbanyak kompetisi internal sebagai ajang seleksi, dan memastikan pelatih-pelatih daerah mendapat pelatihan lisensi yang memadai,” jelasnya.
Ia juga mengusulkan agar KONI Dompu bersama Dinas Pemuda dan Olahraga menyusun grand design pembinaan berjangka, lengkap dengan target capaian di setiap tahapan hingga PON 2028 digelar. Sinergi dengan sekolah-sekolah dan klub olahraga di tingkat kecamatan disebutnya sebagai langkah penting untuk memperluas jaring pencarian bakat atlet.
Sementara itu, tokoh senior yang juga mantan Bupati Dompu dua periode itu mengingatkan agar persiapan menuju PON 2028 tidak hanya menitikberatkan pada cabang olahraga yang selama ini sudah unggul, tetapi juga memberi ruang bagi cabang-cabang lain yang berpotensi mendulang prestasi.
“Menuju PON 2028, Dompu harus punya peta yang jelas. Cabor mana yang perlu diperkuat, cabor mana yang perlu dirintis dari awal, semua harus terukur. Dukungan anggaran juga harus direncanakan bertahap dari sekarang, jangan menunggu satu tahun jelang PON baru bergerak,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Dompu turut mengalokasikan anggaran pembinaan olahraga secara konsisten setiap tahun, sehingga proses regenerasi atlet dapat berjalan berkelanjutan hingga PON NTB-NTT 2028 berlangsung. Menurutnya, keberhasilan sebuah daerah dalam ajang olahraga besar selalu berbanding lurus dengan konsistensi pembinaan yang dilakukan jauh-jauh hari, bukan hasil kerja sesaat menjelang perhelatan.
Harapan untuk Kebangkitan Olahraga Dompu
Kedua tokoh senior ini berharap hasil Porprov XII NTB 2026 dapat menjadi titik balik kebangkitan olahraga Dompu, sekaligus pijakan awal menuju persiapan PON NTB-NTT 2028 yang lebih matang. Mereka mendorong KONI Dompu untuk segera menyusun program pembinaan jangka panjang, memperbaiki sistem manajemen organisasi, serta memastikan pengelolaan anggaran olahraga berjalan transparan dan tepat sasaran.
Dukungan dari seluruh elemen masyarakat, kalangan pengusaha lokal, serta pemerintah daerah dinilai menjadi kunci penting agar Dompu mampu bersaing lebih kompetitif, baik pada ajang Porprov berikutnya maupun pada gelaran PON NTB-NTT 2028. Harapan besar kini tertuju pada langkah konkret yang akan diambil KONI Dompu pasca-evaluasi, demi memastikan prestasi olahraga daerah ini dapat bangkit dan bersaing sejajar dengan kabupaten/kota lain, bahkan di kancah nasional. (Idin)
25,136 kali dilihat, 25,136 kali dilihat hari ini










