DOMPU — Kontingen Dompu pulang dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 dengan catatan yang menyesakkan. Daerah yang pada 2023 lalu sempat berdiri di podium kedua klasemen umum kini harus menerima kenyataan pahit, terlempar jauh ke peringkat delapan. Penurunan drastis ini mengundang keprihatinan sejumlah kalangan, termasuk dari internal pegiat olahraga daerah itu sendiri.
Ketua Kick Boxing Kabupaten Dompu, M. Subahan SE, yang juga menjabat Ketua Harian Pengurus Provinsi Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) NTB, angkat bicara soal anjloknya prestasi kontingen Dompu. Katanya, persoalan ini tidak bisa dijawab dengan alasan tunggal soal keterbatasan anggaran.
“Kalau kita berkutat pada anggaran saya kira ini keliru. Persoalannya, semua daerah bukan saja di NTB, seluruh Indonesia mengalami hal yang sama, yaitu masalah efisiensi,” tegas Subahan.
Momentum Besar yang Terlewatkan
Subahan mengingatkan, Porprov XII NTB 2026 bukan perhelatan olahraga biasa. Even ini berlangsung dalam bayang-bayang PON yang akan digelar dengan tuan rumah dua provinsi, NTB dan NTT, ditambah dukungan DKI Jakarta sebagai penunjang kegiatan. Status ini secara otomatis menempatkan NTB sebagai representasi tuan rumah, sehingga atlet-atlet daerah punya jalan lebih terbuka untuk unjuk kemampuan menuju seleksi PON.
Sebagai pegiat olahraga Subhan menyayangkan kondisi daerah yang berada pada lapisan bawah perolehan medali. Katanya para petinggi olahrga di tingkat atas mustahil melirik ke bawah, ini akan berdampak pada prestasi para atlit.
“olah raga ini adalah salah satu faktor prestasi sebuah daerah, maka tempatkanlah konsep dan strategis yang matang buat prestasi daerah khususnya olah raga, saya lebih mememikirkan para atlit kita yang berjuang baik itu di tingkat daerah, nasional maupun internasional,” papar Ketua Kick Boxing yang mengaku berhasil meraih 3 medali emas di ajang Porprov NTB 2026.
Ia menyebut capaian peringkat delapan ini sebagai sesuatu yang sulit diterima logika. “Ini adalah sebuah pencapaian yang bagi saya tidak masuk akal. Berada di peringkat delapan ini menandakan kemunduran prestasi khususnya di bidang olahraga. Kita salah konsep dan strategi,” katanya tegas.
Anggaran Bukan Faktor Tunggal
Menurut Subahan, argumen bahwa minimnya anggaran menjadi penyebab merosotnya prestasi Dompu perlu diuji ulang. Ia mencontohkan tim voli putra Dompu yang justru berangkat secara mandiri tanpa sokongan penuh dari APBD, namun mampu berbicara banyak di ajang Porprov.
“Tentu harapan mereka adalah dipanggil atletnya untuk seleksi PON. Dan banyak juga cabor yang dibiayai oleh APBD yang tidak bisa mendulang medali,” ungkapnya.
Fakta ini, kata Subahan, menunjukkan bahwa akar masalah sesungguhnya terletak pada penyusunan skala prioritas cabang olahraga, bukan semata besaran dana yang digelontorkan. “Saya kira skala yang dipakai hanya berkutat pada anggaran, tidak pada prioritas,” tandasnya.
Terkait faktor keuntungan sebagai daerah penyelenggara sebagian pertandingan, Subahan menilai pengaruhnya terhadap perolehan medali tidak signifikan. “Kalau kita bicara pada faktor tuan rumahnya, saya kira hanya 20 persen saja. Tapi mereka diuntungkan pada faktor UMKM-nya,” jelasnya, merujuk pada dampak ekonomi bagi daerah penyelenggara yang lebih terasa di sektor usaha kecil ketimbang di lintasan dan lapangan pertandingan.
Skala Even yang Membesar
Data resmi mencatat, penyelenggaraan Porprov NTB dari edisi ke edisi terus mengalami perluasan cakupan. Pada Porprov XI 2023, tercatat 35 cabang olahraga dipertandingkan dengan total 475 nomor pertandingan. Sementara pada Porprov XII 2026, jumlah cabang olahraga melonjak menjadi 51 cabang dengan 758 nomor pertandingan yang diperebutkan.
Perluasan skala kompetisi ini menuntut daerah-daerah peserta untuk menyiapkan pemetaan potensi atlet secara lebih matang dan menyeluruh. Semakin banyak cabang dan nomor yang dipertandingkan, semakin besar pula peluang medali yang tersedia bagi daerah yang mampu membaca peta kekuatan dan menempatkan sumber daya secara tepat sasaran.
Bagi Dompu, situasi ini justru berbanding terbalik dengan hasil yang diraih. Jatuhnya peringkat dari posisi dua besar pada 2023 ke posisi delapan pada 2026, kendati jumlah cabang dan nomor pertandingan yang dipertandingkan justru bertambah luas, menjadi catatan yang perlu dibedah oleh KONI Dompu bersama seluruh pengurus cabang olahraga di daerah itu.
Momentum Evaluasi Menuju PON
Dengan agenda seleksi PON yang akan segera bergulir, Subahan berharap hasil Porprov XII ini dijadikan bahan evaluasi menyeluruh oleh KONI Dompu. Penataan skala prioritas cabang olahraga, pemetaan potensi atlet muda, serta pola pembinaan berjenjang dinilai perlu menjadi fokus pembenahan ke depan.
“Ini momentum untuk kita duduk bersama, membenahi konsep dan strategi pembinaan olahraga di Dompu,” pungkasnya. (Idin)
19,268 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini










