DOMPU – Menjadi lurah bukan sekadar urusan administratif di ruangan ber-AC. Bagi Deni Rahmansyah S.STP, Lurah Kandai I, Kecamatan Dompu, kabupaten Dompu, jabatan yang diembannya tidak lebih dari seni mengelola harapan, meredam keluhan, hingga terkadang dipaksa menjadi sosok yang dianggap keramat oleh warganya.

Lurah Pawang Hujan dan Aplikasi BMKG
Sore itu, suasana di kantor kelurahan sempat membuat Deni mebingungan. Seorang petani datang dengan wajah kusut, mengeluhkan langit yang tak kunjung menurnkan hujan. Daerah agraris seperti Dompu, hujan adalah urusan hidup dan mati. Merasa “kalah” dengan keluhan warga yang semakin meresahkan, Deni memutar otak. Ia tak menggunakan kemenyan, melainkan teknologi.
Sambil menyimak omelan warganya, jemari Deni dengan tenang memainkan layar ponsel, membuka situs resmi BMKG. Berbekal data presisi tentang prakiraan cuaca, ia menatap sang petani dengan penuh keyakinan.
“Bapak pulang saja dulu. Insya Allah nanti usai Isya, hujan akan turun sampai subuh,” ucapnya tenang.
Tak disangka, alam selaras dengan data digital. Hujan benar-benar mengguyur Kandai I sejak selepas Isya sekitar pukul 22.00 malam hingga fajar menyingsing. Keesokan harinya, di kantor Kelurahan Deni dikagetkan oleh si petani yang datang berterima kasih. Seketika, Deni dijuluki sebagai Lurah yang bisa mendatangkan hujan.
Khawatir kepercayaan ini bergeser menjadi mistis, Deni segera bertindak. Ia tak ingin dipuja sebagai pawang. Dengan sabar, ia mengumpulkan warga dan menunjukkan layar ponselnya. Ia membagikan tautan aplikasi BMKG dan mengajari warga cara membacanya.
“Bukan saya yang datangkan hujan, tapi ini datanya. Kalau mau tahu kapan hujan turun, buka saja aplikasi ini,” jelasnya sambil tersenyum.
Cinta yang Merepotkan di Warung Makan
Penghormatan warga Kandai I kepada Deni terkadang berada di level yang unik sekaligus merepotkan bagi sang lurah. Selama lima tahun menjabat, Deni mengaku kesulitan meski untuk sekadar makan siang di wilayahnya sendiri.
Hampir semua pemilik rumah makan di Kelurahan Kandai I melarangnya membayar. Jika ia nekat mengeluarkan dompet, pemilik warung bisa tersinggung. Bahkan, ada kalanya ia diprotes keras jika terlalu lama tidak mampir makan di warung tertentu. Bagi warga, memberi makan sang lurah adalah bentuk rasa syukur atas pengabdiannya.
Sampaikan Sambutan di Pernikahan Warga di Mataram
Puncak dari kecintaan warga ini terlihat pada sebuah hajatan pernikahan salah satu warganya. Bukan di Dompu, pesta tersebut digelar di Prime Hotel, Kota Mataram—ibu kota Provinsi NTB. Sohibul hajat bersikeras bahwa Deni yang harus memberikan sambutan.

Tak tanggung-tanggung, tiket pesawat pergi-pulang Dompu-Mataram disiapkan khusus untuknya. Bagi warga Kandai I, posisi Deni dalam acara seremoni adalah mutlak. Di setiap acara pernikahan atau syukuran, tidak boleh ada orang lain yang memberikan sambutan wajib Deni, kecuali jika Bupati atau Wakil Bupati hadir.
Pernah dalam suatu acara yang dihadiri pimpinan DPRD, tuan rumah tetap bersikeras meminta sang lurah yang berdiri di podium. Di benak warga, Deni bukan sekadar pejabat, melainkan bagian dari keluarga besar mereka.
Berkah di Tengah Hama
Sebuah cerita yang menyelimuti wilayah ini seolah menjadi “karomah” dari kepemimpinan yang tulus. Saat beberapa desa dan kelurahan tetangga meratap karena gagal panen akibat serangan hama tikus, lahan pertanian di Kandai I justru panen berlimpah ruah. Warga meyakini, keharmonisan antara pemimpin dan rakyatnya membawa berkah tersendiri bagi kesuburan tanah mereka.
Ketenangan, kenyamanan dan keharmonisan yang tercipta di Kelurahan Kandai I, Deni mengaku tidak sendirian karena ada sosok hebat Babinsa Serka Amril. Duet Deni – Amril ini menjadi pilar utama yang selalu hadir di setiap konflik maupun duka warga.
Kisah Deni di Kandai I adalah potret nyata bahwa kepemimpinan di tingkat akar rumput tidak butuh sekat. Bermodal keterbukaan informasi, sedikit teknologi, dan empati yang besar, seorang lurah bisa menjadi sosok yang begitu dicintai. (Idin)
31,171 kali dilihat, 31,171 kali dilihat hari ini










