KABUPATEN BIMA – Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima memegang peran krusial sebagai urat nadi transportasi udara. Bandara ini menjadi pintu gerbang utama yang menghubungkan masyarakat di berbagai daerah di Pulau Sumbawa dengan wilayah lain di Nusantara. Sayangnya, peran strategis ini ternoda oleh minimnya fasilitas dasar yang justru sangat vital bagi kenyamanan publik.
Hingga saat ini, keluhan demi keluhan mencuat terkait ketiadaan fasilitas kursi tunggu untuk umum, baik di area kedatangan maupun keberangkatan.
Berbeda dengan bandara-bandara lain di Tanah Air yang lazimnya menyediakan ruang tunggu publik yang memadai, pemandangan di Bandara Bima justru didominasi oleh deretan lapak komersial.
Area strategis yang semestinya menjadi ruang publik bagi para pengantar dan penjemput kini nyaris sepenuhnya beralih fungsi menjadi area bisnis penjaja makanan dan minuman.
Bukan berarti tidak ada tempat duduk sama sekali di area tersebut. Namun, deretan kursi yang tersedia secara eksklusif merupakan milik para pemilik lapak. Otomatis, fasilitas tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang berbelanja atau makan dan minum di tempat tersebut.
Bagi masyarakat umum atau keluarga penumpang yang sekadar ingin duduk menunggu tanpa harus merogoh kocek di warung, mereka terpaksa harus berdiri kelelahan atau mencari tempat seadanya. “mau tidak mau kami hanya bertengger di pagar teras bandara,” keluh Rasya yang menemani mamanya saat ke bandara Bima. “itu ada juga yang duduk-duduk di tangga,” tambahnya.
Dominasi lapak yang menguasai hampir seluruh area kedatangan dan keberangkatan ini membuat bandara terasa kehilangan fungsi pelayanan publiknya.
Sebagai fasilitas publik berskala nasional, ketiadaan ruang tunggu gratis adalah sesuatu yang cukup memprihatinkan. Masyarakat berharap pihak pengelola bandara, termasuk otoritas terkait seperti Angkasa Pura tidak tutup mata dan segera mencari jalan keluar atas permasalahan ini. Penataan ulang proporsi area komersial dan penyediaan fasilitas kursi tunggu gratis dinilai sangat mendesak.
Kenyamanan penumpang dan pengunjung bandara sejatinya harus dikembalikan sebagai prioritas utama. Rasya Alfatih berharap, pengelola segera memikirkan solusi yang adil, agar wajah Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima tidak hanya megah sebagai tempat transit, tetapi juga ramah dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. (Idin)
1,838 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











