KOTA BIMA — Deburan ombak Pantai Lawata pada Rabu (17/6/2026) menjadi saksi pecahnya tawa riang lebih dari 200 orang paruh baya. Mereka berkumpul, berpelukan erat, dan bersenda gurau layaknya remaja belasan tahun. Para alumni SMAN 1 Kota Bima dari rentang kelulusan 1965 hingga 1986 kembali pulang ke kenangan masa lalu lewat reuni akbar lintas angkatan.
Guratan usia dan helai rambut yang telah memutih sama sekali tidak menyurutkan energi mereka. Langkah kaki yang barangkali tak lagi selincah masa sekolah seketika berubah menjadi lompatan kegembiraan begitu sepasang mata mengenali kawan lama yang puluhan tahun tak bersua.
Ketua Panitia Reuni Lintas Angkatan SMAN 1 Kota Bima, H.M. Zaidun H. Abdul Hamid, melukiskan suasana haru sekaligus bahagia itu dalam sambutannya yang menegaskan bahwa, pertemuan tersebut menjadi momen untuk menanggalkan segala atribut yang dibawa dari luar. Pangkat, jabatan, dan status sosial yang melekat dalam keseharian dibiarkan tertinggal.
“Rambut kita mungkin kini sudah memutih, langkah kita mungkin tak lagi secepat dulu saat masih berlarian di lapangan dan lorong-lorong sekolah. Namun, saya yakin sepenuhnya, begitu kita bertatap muka hari ini, jiwa dan semangat kita kembali menjadi anak SMA yang penuh tawa, canda, dan kehangatan,” ungkap H. Zaidun, yang disambut tawa dan tepuk tangan.
Dari ratusan alumni yang hadir meramaikan Pantai Lawata, rombongan angkatan 1986 tampil paling semarak dengan 43 orang. Jejak panjang sejarah sekolah turut terwakili oleh kehadiran satu saksi hidup dari angkatan paling senior, yaitu lulusan 1965. Kemeriahan kian hangat oleh kehadiran 20 orang dari angkatan 1972 dan lima perwakilan angkatan 1980. Semuanya membaur dalam satu keluarga besar.
Di berbagai sudut, celoteh nostalgia mengalir deras. Para alumni memutar kembali memori, menertawakan kenakalan masa remaja yang pernah mereka lakukan bersama, dan mengenang didikan tegas nan penuh kasih dari para guru.
Perjumpaan lintas generasi ini menjelma menjadi wujud nyata bahwa cinta pada almamater dan ikatan persaudaraan sejati tak pernah lekang dimakan waktu.
Panitia berharap momentum perjumpaan tersebut memberi makna berumur panjang sebagai wadah untuk terus mempererat tali silaturahmi, saling peduli, dan saling menjaga satu sama lain.
Suasana penuh canda tawa sempat berubah khusyuk saat seluruh hadirin meluangkan waktu sejenak menundukkan kepala. Mereka memanjatkan doa bagi sahabat dan guru yang sedang diuji dengan sakit agar segera diberi kesembuhan. Doa terbaik juga mengalir bagi para guru dan kawan seperjuangan yang telah lebih dulu berpulang ke Rahmatullah, memohon agar almarhum dan almarhumah mendapat tempat paling mulia di sisi-Nya.
Perjumpaan hangat di pesisir Bima itu membuktikan satu hal bahwa kerut wajah hanyalah penanda jejak waktu, sementara jiwa persahabatan yang terpupuk di bangku SMA akan selalu muda dan abadi. (Idin)
29,137 kali dilihat, 29,137 kali dilihat hari ini










