KOTA BIMA — Pagi masih terasa sunyi. Jarum jam belum lama bergeser dari angka delapan ketika sebuah notifikasi kecil muncul di layar ponsel ratusan orang yang tersebar dari ujung barat hingga timur Nusantara. Selasa, 02/06/2026, pukul 08.27 WITA, sebuah babak baru resmi dimulai bagi keluarga besar alumni SMAN 1 Kota Bima angkatan 1986.
Nama Amar Makruf tiba-tiba memenuhi layar grup WhatsApp. Bukan karena kabar duka, bukan pula sekadar obrolan ringan. Melainkan sebuah pengumuman yang telah dinanti, Amar Makruf terpilih sebagai Ketua Alumni SMAN 1 Kota Bima angkatan 1986, periode 2026–2031.
Sedikitnya 153 orang yang pernah duduk sebangku, berlari di halaman sekolah yang sama, dan mengucap sumpah pelajar di bawah tiang bendera yang sama, kini terpencar di berbagai kota, bahkan mungkin berbagai negara. Rambut mereka sudah tak sehitam dulu. Wajah-wajah itu telah diukir waktu dengan garis-garis kebijaksanaan. Namun satu hal yang tak berubah yakni ikatan yang lahir dari lorong-lorong sekolah di Kota Bima empat puluh tahun silam.
Ketika ide pemilihan ketua alumni digulirkan, tidak ada gedung pertemuan yang dipesan, tidak ada meja panjang dengan spanduk besar terpasang. Yang ada hanyalah sebuah grup WhatsApp, sederhana, dan ternyata cukup untuk menampung semangat berdemokrasi 153 jiwa sekaligus.
Pemilihan dimulai sejak Senin. Satu per satu suara masuk. Sunyi, tapi pasti. Melalui layar ponsel di sudut-sudut kota yang berbeda, para alumni memberikan hak suaranya, bukan dengan mencoblos kertas, melainkan dengan ketukan jari di tombol layar handphone (HP).
Saat Selasa pagi tiba dan pemungutan suara resmi ditutup, 77 suara sah telah terkumpul dari 153 anggota yang terdaftar. Kuorum terpenuhi. Demokrasi kecil itu berjalan dengan khidmat.
Di antara deretan ucapan selamat yang masuk di grup, ada satu pesan yang seolah membawa seluruh anggota kembali ke masa sekolah dulu. Pesan itu datang dari Imran Said, sosok yang namanya sudah tak asing di telinga angkatan 1986. Ia adalah mantan Ketua OSIS SMAN 1 Kota Bima pada tahun 1985. Dulu ia memimpin di atas podium sekolah. Kini ia menyapa rekan-rekannya via layar ponsel.
Dengan gaya yang hangat namun tetap berwibawa, Imran menulis, “Selamat dan sukses untuk rekan kita Amar Makruf yang telah terpilih secara demokratis dan memiliki legitimasi yang kuat untuk memimpin alumni 86 untuk periode 2026–2031. Terima kasih juga buat rekan-rekan yang telah mengikuti kontestasi dan para pemilih yang telah memilih sesuai dengan hati nuraninya…”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar basa-basi. Tersimpan penghargaan tulus kepada seluruh pihak yang ikut ambil bagian, mereka yang berani maju sebagai kandidat, maupun mereka yang dengan diam-diam mengetikkan pilihan hati nuraninya.
Kegembiraan boleh saja menghentak, tapi Imran, dengan pengalaman organisasinya, langsung mengingatkan bahwa tugas sesungguhnya baru saja dimulai.
Ketua terpilih diberi batas waktu yang tegas, agar dalam 14 hari segera membentuk kepengurusan definitif. Struktur organisasi yang harus diisi bukan main-main, mulai dari Pembina dan Penasehat, Ketua dan Wakil Ketua, Bendahara, Sekretaris, hingga seksi-seksi teknis yang akan menjadi urat nadi organisasi. Seksi Organisasi dan Keanggotaan, Seksi Sosial, serta Seksi Umum.
Semua nama pengurus wajib dilaporkan kembali ke grup WhatsApp, tempat yang sama di mana demokrasi kecil itu baru saja berlangsung.
Dari proses yang terkesan sederhana ini, sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Ini bukan hanya soal siapa yang memimpin. Ini tentang sekelompok manusia yang telah melewati empat dekade kehidupan, dengan segala pasang surut, kehilangan, dan pencapaian tetapi memilih untuk tetap terhubung.
Mereka yang dulu berlomba mengerjakan soal matematika di kelas yang sama, kini berlomba memberikan suara terbaik mereka untuk masa depan anggota alumni. Sekolah telah lama usai, tapi persaudaraan itu, rupanya, tidak pernah lulus.
Dan pagi ini, di sebuah grup WhatsApp yang ramai dengan ucapan selamat dan emoji ceria, angkatan 1986 SMAN 1 Kota Bima membuktikan satu hal kepada dunia bahwa, jarak bukan penghalang, usia bukan alasan, dan semangat kebersamaan, sekali tumbuh tak akan pernah benar-benar padam. (Idin)
7,199 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini










