DOMPU — Udara di Kabupaten Dompu hari ini dipenuhi dengan semerbak kehangatan dan riuh rendah kebersamaan. Darii berbagai sudut, mereka yang diberi kelapangan rezeki menunaikan ibadah penyembelihan hewan kurban.
Kendati sering dipandang sebagai tradisi tahunan umat Muslim, kurban pada hakikatnya adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah SAW sebagai sebuah ibadah yang mempertemukan ketaatan vertikal dan kesalehan sosial.
Hari ini, Rabu 10 Zulhijah 1447 H, nampak senyum itu merekah merata. Keluarga miskin, menengah, hingga mereka yang mampu, sama-sama merasakan hangatnya persaudaraan dalam iman saat menerima bingkisan daging kurban.
Di Desa Ranggo, semangat berbagi ini terekam lewat dedikasi Darmawansyah dan sang istri, Ruwaidah. Tahun ini, mereka mendapat amanah istimewa dari seorang hartawan asal Pulau Jawa yang mempercayakan pengelolaan dan pemotongan tujuh ekor sapi berukuran besar kepada keluarga ini.
Sejak pagi, pekarangan rumah guru PPPK yang akrab disapa Mawan ini riuh oleh semangat gotong-royong warga yang membantu proses penyembelihan hingga penimbangan. Daging dari ketujuh ekor sapi tersebut dikemas rapi dengan takaran masing-masing 1 kilogram.
Menariknya, kebahagiaan ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang datang ke pekarangan rumah Mawan. Menyadari banyaknya warga yang tak sempat menunggu proses panjang pemotongan hingga pembungkusan, Mawan dan istrinya berinisiatif membentuk tim distribusi khusus. Tim inilah yang bergerak menyusuri jalan-jalan desa, mengantarkan bungkusan daging langsung ke pintu-pintu rumah warga.
“Kami hanya mengatur agar warga di Desa Ranggo dan Desa Tembalae juga areal Transat Desa Woko bisa kebagian daging kurban. Yang kurban ini orangnya ada di Jawa, saya hanya dimintai tolong untuk ngatur distribusi setelah dipotong,” jelas Mawan tanpa menyebut nama hartawan tersebut.
Seharian ini, ratusan warga menerima daging kurban dengan mata yang berbinar dan hati yang sarat akan syukur. Dari senyum mereka yang menerima bungkusan daging di depan pintu, tersimpan sebuah pesan langit yang syahdu, bahwa sekat geografis antara Jawa dan Dompu seketika lebur saat cinta karena Allah digerakkan melalui ibadah kurban. Jarak ribuan kilometer bukan lagi pembatas, melainkan jembatan yang merekatkan persaudaraan seiman.
Menapak Jejak Keikhlasan Ibrahim
Kebahagiaan yang dirasakan warga di tiga wilayah sasaran distribusi ini berakar pada sebuah peristiwa besar ribuan tahun silam. Perintah berkurban bermula dari ujian keimanan paling epik yang pernah dilalui umat manusia yakni, kisah Nabi Ibrahim AS dan putra kesayangannya, Nabi Ismail AS.
Dalam mimpi yang merupakan wahyu, Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Tanpa keraguan, sang ayah menyampaikan titah tersebut, dan sang anak dengan penuh keikhlasan menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Pada detik-detik yang menegangkan penyerahan total tersebut, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Peristiwa ini menjadi syariat abadi bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ia membawa pesan mendalam bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan, keikhlasan, dan kerelaan manusia untuk mengorbankan ego serta harta yang dicintainya.
Kurban, Kesejahteraan, dan Pengentasan Kemiskinan
Di Dompu, pemandangan ratusan warga yang tersenyum saat tim Mawan mengetuk pintu rumah mereka adalah potret nyata bagaimana agama bekerja dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Ibadah kurban bukan sekadar ritual tumpah darah hewan, melainkan instrumen redistribusi kekayaan yang sangat efektif.
Perintah berkurban memiliki kaitan yang sangat erat dengan upaya pengentasan kemiskinan. Dalam sistem ekonomi dan sosial Islam, harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya. Kurban memaksa sekat-sekat sosial itu runtuh, meski hanya di hari raya. Bagi kelompok masyarakat rentan dan miskin, hari raya kurban adalah momentum pemenuhan gizi protein hewani yang mungkin sangat langka dan mahal bagi mereka di hari-hari biasa.
Ketika seorang hartawan dari Jawa menyisihkan kekayaannya untuk didistribusikan hingga ke pelosok Transat Woko, ia sejatinya sedang melakukan investasi kesejahteraan. Ketimpangan sosial ditekan, solidaritas antarwarga menguat, dan roda ekonomi di tingkat peternak lokal pun berputar.
Sebungkus daging seberat 1 kilogram yang diantarkan oleh tim Mawan bukanlah sekadar bahan makanan. Ini adalah pesan cinta dari Sang Pencipta yang dititipkan lewat tangan-tangan manusia, sekaligus menegaskan bahwa kesejahteraan sejati hanya bisa dicapai ketika kita bersedia untuk peduli dan berbagi. (Idin)
16,049 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini











