• Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Pemasangan Iklan
  • Contact Us
  • Peraturan Perusahaan
  • Tentang PersIndoNews
  • Login
NtbPost.co
  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi
No Result
View All Result
NtbPost.co
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Rupiah Tersungkur, Sandiaga Uno Punya Resep dan Sejarah Pernah Membuktikannya

admin by admin
5 Juni 2026
in Ekonomi
0
Rupiah Tersungkur, Sandiaga Uno Punya Resep  dan Sejarah Pernah Membuktikannya

Screenshot

1.5k
SHARES
19.3k
VIEWS
Bagikan di WhatsAppBagikan di Facebook

DOMPU – Ketika nilai mata uang dollar menembus Rp 17.845, seorang mantan menteri angkat bicara. Idenya sederhana, tapi jenius. 27 tahun lalu, seorang presiden yang “bukan ekonom” pernah melakukan hal serupa dengan hasil yang mengejutkan dunia.

Bayangkan Anda punya dompet yang terus menipis bukan karena anda boros, tapi karena tetangga anda terus menaikkan harga barang yang anda butuhkan. Setiap hari anda harus keluar lebih banyak uang untuk membeli hal yang sama. Itulah, kira-kira, yang sedang dialami Indonesia beberapa hari terakhir ini.

BERITA TERKAIT

DPRD Dompu Apresiasi Kemitraan Petani Tebu dengan PT SMS di Kecamatan Pekat

Bupati Dompu Resmikan Rumah Produksi Rokok PR Imilna dan Buka Pelatihan Desain Produk di Pekat

NTP Petani NTB Tembus 130,44, Daya Beli Terus Menguat

Rupiah. Mata uang kebanggaan negei ini terjun bebas. Kini harus merogoh saku lebih dalam Rp 17.845 bahkan sudah di angka Rp 18.000, hanya untuk mendapatkan satu lembar uang dollar Amerika Serikat.

Angka ini merupakan sinyal yang terasa langsung di dompet ibu rumah tangga yang berbelanja bahan pokok impor, di tagihan cicilan pengusaha yang punya utang dolar, dan di harga tiket pesawat yang tiba-tiba melambung. Rupiah yang lemah adalah pajak tak tertulis yang dibayar seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kegelisahan inilah, Sandiaga Salahuddin Uno angkat bicara. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini muncul dengan pernyataan yang langsung viral di media sosial. Kedengarannya cukup sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk sebuah masalah ekonomi yang rumit tapi, justru di situlah letak kejeliannya.

Sandiaga tidak bicara soal kebijakan moneter yang kompleks atau formula suku bunga yang membingungkan. Dia bicara soal logika dasar yang dipahami siapa pun, “kalau kamu punya banyak dollar, kamu tidak perlu beli dollar. Kalau devisa masuk, berarti permintaan terhadap dollar akan berkurang karena kita tidak perlu membeli dollar di pasar, kebutuhan kita membayar utang, kebutuhan kita mengimpor barang, itu bisa terpenuhi dari devisa dolar yang kita miliki.” Tegasnya

Dua jalur utama yang menurut Sandiaga selama ini kurang dimaksimalkan yakni, ekspor produk unggulan dan pariwisata berkualitas.

Jalur Pertama, Biarkan Kopi Kita Bicara kepada Dunia

Indonesia adalah negara yang kaya secara absurd, karena punya kopi yang dicari-cari barista di Tokyo dan New York. Punya kelapa sawit yang menjadi bahan baku ribuan produk global. Punya nikel yang diperebutkan negara-negara besar untuk baterai kendaraan listrik. Punya pangan, energi, dan rempah yang membuat bangsa-bangsa Eropa dulu rela berlayar berbulan-bulan hanya untuk mendapatkannya.

Namun anehnya, masih sering kekurangan dollar.

Sandiaga menunjuk langsung ke akar masalahnya diantaranya, potensi ekspor yang belum digarap maksimal. “Dengan meningkatkan ekspor produk-produk kita yang diminati oleh dunia, seperti kopi, atau produk pangan lainnya, atau produk energi, maka devisa masuk ke Indonesia,” katanya.

Mekanismenya seperti lingkaran ini. Ekspor naik → dolar masuk → cadangan devisa menguat → kebutuhan membeli dolar di pasar berkurang → permintaan dolar turun → rupiah menguat. Bukan sihir. Bukan teori abstrak. Itu hukum penawaran dan permintaan yang paling dasar.

Jalur Kedua : Surga yang Sudah Ada, Tapi Belum  Terjaga

Jika ekspor adalah tentang menjual produk ke luar, pariwisata adalah tentang membuat dunia datang ke sini dan meninggalkan dollar di sini.

Sandiaga menyebut sektor ini sebagai peluang yang “sangat luar biasa”, dan ia punya alasan kuat untuk itu. Pariwisata adalah bisnis yang hampir seluruhnya menggunakan bahan baku domestik yakni, pantai, gunung, budaya, kuliner. Tidak perlu impor bahan baku. Tidak perlu bayar lisensi ke luar negeri. Turis datang, menikmati apa yang ada, dan membayar dalam mata uang asing.

Strateginya pun dua arah yaitu, tarik wisatawan asing masuk lebih banyak, sekaligus dorong warga Indonesia untuk berwisata di dalam negeri. “Mengurangi wisata ke luar negeri tapi menaikkan wisata dalam negeri, ini akan memberikan dukungan yang sangat luar biasa bagi posisi rupiah versus dolar kita,” tegasnya.

Coba bayangkan angkanya. Setiap warga Indonesia yang memilih Labuan Bajo dibanding Bangkok, yang memilih Danau Toba dibanding Gold Coast di Australia, secara tidak langsung ikut menjaga rupiah. Uang yang seharusnya terbang ke luar negeri, tetap berputar di dalam negeri.

Tapi Kapan? Sebuah Kejujuran yang Menyegarkan

Sandiaga tidak melempar janji manis “enam bulan rupiah akan kembali ke Rp 15.000″, ia justru merendah. “Kita nggak bisa menetapkan kapan, tiga bulan atau enam bulan. Tapi ini merupakan upaya secara kolektif untuk membangun ekonomi yang lebih produktif dan lebih kompetitif. Ini butuh kerja super tim,” ujarnya.

Flashback 1998 : Ketika Seorang “Bukan Ekonom” Menyelamatkan Rupiah

Jika ada yang merasa strategi Sandiaga terlalu optimistis, sejarah Indonesia sendiri menyimpan bukti yang jauh lebih dramatis bahwa, rupiah yang terpuruk dalam pun bisa diselamatkan.

Tahun 1998. Indonesia tercabik-cabik krisis moneter Asia. Nilai rupiah yang tadinya berkisar Rp 2.500 per dolar tiba-tiba ambrol hingga menyentuh **Rp 16.800**. Inflasi meledak hingga 77 persen. Bank-bank kolaps. Kerusuhan meledak di mana-mana. Presiden Soeharto tumbang setelah 32 tahun berkuasa.

Seorang teknokrat pembuat pesawat terbang. Bukan ekonom. Bukan bankir. B.J. Habibie jadi Presiden RI.

Dunia skeptis. Bahkan Lee Kuan Yew, pemimpin Singapura disebut-sebut meragukan kemampuan Habibie mengatasi krisis. Pasar pun bergolak. Namun Habibie, dengan caranya sendiri yang tak ortodoks, justru membuktikan semua keraguan itu salah.

Ia bergerak cepat dengan tiga langkah besar. Pertama, ia merombak total sektor perbankan yang babak belur, menggabungkan empat bank pemerintah menjadi satu institusi baru yang kokoh, yang kini dikenal sebagai Bank Mandiri.  Suku bunga yang mencekik di angka 60 persen perlahan turun ke belasan persen, dan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan perlahan pulih.

Kedua, Presiden Habibie mendorong independensi Bank Indonesia melalui undang-undang baru, memastikan kebijakan moneter tidak lagi didikte kepentingan politik. Ini adalah reformasi struktural yang dampaknya masih dirasakan hingga hari ini.

Ketiga, Habibie menjaga daya beli rakyat dengan menahan kenaikan harga listrik dan BBM bersubsidi, sehingga harga bahan pokok tidak semakin liar dan keresahan sosial tidak semakin membara.

Hasilnya ? Mencengangkan. Dalam waktu 17 bulan, rupiah yang sempat tercampak di level Rp 16.800 menguat menjadi Rp 6.550 per dolar. Inflasi yang mengamuk di angka 77 persen berhasil dipadamkan menjadi sekitar 2 persen. Indeks Harga Saham Gabungan terbang dari 200 poin ke 588 poin. Seorang yang bukan ekonom telah menyelamatkan ekonomi Indonesia dari jurang yang tampaknya tak berdasar.

Kisah Habibie dan gagasan Sandiaga sesungguhnya berbagi satu benang merah yang sama “kepercayaan diri terhadap kekuatan ekonomi dalam negeri.”

Habibie tidak menunggu resep dari luar. Ia berbenah dari dalam — perbankan, kelembagaan, kepercayaan publik. Sandiaga pun menunjuk ke dalam kopi, pantai, gunung, produk pangan. Keduanya percaya bahwa jawaban atas krisis nilai tukar ada di tangan Indonesia sendiri, bukan di tangan IMF atau Federal Reserve Amerika.

Tentu, konteks 1998 dan 2026 sangat berbeda. Krisis 1998 adalah badai sempurna yang meluluhlantakkan segala sendi. Situasi hari ini, meski mencemaskan, belum sampai ke titik itu. Tapi prinsipnya tetap berlaku bahwa rupiah yang kuat harus dibangun dari ekonomi yang produktif, dari ekspor yang bergairah, dari wisatawan yang berdatangan dan dari kepercayaan yang dijaga.

Sandiaga menutup pernyataannya bukan dengan slogan, melainkan dengan seruan yang terasa sangat membumi, “Ini butuh kerja super tim.” Mungkin itulah inti dari segalanya. Bukan menunggu satu pahlawan. Tapi bergerak bersama pemerintah, pengusaha, dan setiap warga negara yang hari ini memilih produk lokal, memilih berlibur di negeri sendiri, dan memilih percaya bahwa Indonesia mampu. Karena sejarah sudah membuktikan, kita pernah melakukannya. (Idin)

 19,299 kali dilihat,  19,299 kali dilihat hari ini

Previous Post

DPRD Dompu Apresiasi Kemitraan Petani Tebu dengan PT SMS di Kecamatan Pekat

admin

admin

Related Posts

DPRD Dompu Apresiasi Kemitraan Petani Tebu dengan PT SMS di Kecamatan Pekat
Ekonomi

DPRD Dompu Apresiasi Kemitraan Petani Tebu dengan PT SMS di Kecamatan Pekat

4 Juni 2026
Bupati Dompu Resmikan Rumah Produksi Rokok PR Imilna dan Buka Pelatihan Desain Produk di Pekat
Ekonomi

Bupati Dompu Resmikan Rumah Produksi Rokok PR Imilna dan Buka Pelatihan Desain Produk di Pekat

4 Juni 2026
NTP Petani NTB Tembus 130,44, Daya Beli Terus Menguat
Ekonomi

NTP Petani NTB Tembus 130,44, Daya Beli Terus Menguat

2 Juni 2026
Infrastruktur Dinilai Memadai, H. Ikhtiar Yusuf Dorong Pemkab Dompu Fokus Tekan Kemiskinan
Ekonomi

Infrastruktur Dinilai Memadai, H. Ikhtiar Yusuf Dorong Pemkab Dompu Fokus Tekan Kemiskinan

26 Mei 2026
Kemiskinan Dompu Meroket, H. Alexander Soroti Pemborosan Pejabat dan Minimnya Inovasi Lapangan Kerja
Ekonomi

Kemiskinan Dompu Meroket, H. Alexander Soroti Pemborosan Pejabat dan Minimnya Inovasi Lapangan Kerja

25 Mei 2026
Ekonomi

Pemkab Dompu Rencana Ajukan Pinjaman Rp 42 Miliar ke PT SMI untuk Proyek Air Bersih

17 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Rupiah Tersungkur, Sandiaga Uno Punya Resep  dan Sejarah Pernah Membuktikannya

Rupiah Tersungkur, Sandiaga Uno Punya Resep dan Sejarah Pernah Membuktikannya

5 Juni 2026
DPRD Dompu Apresiasi Kemitraan Petani Tebu dengan PT SMS di Kecamatan Pekat

DPRD Dompu Apresiasi Kemitraan Petani Tebu dengan PT SMS di Kecamatan Pekat

4 Juni 2026
Bupati Dompu Resmikan Rumah Produksi Rokok PR Imilna dan Buka Pelatihan Desain Produk di Pekat

Bupati Dompu Resmikan Rumah Produksi Rokok PR Imilna dan Buka Pelatihan Desain Produk di Pekat

4 Juni 2026
Bupati Dompu : Infrastruktur Masih Jadi PR Besar, Perbaikan Jalan Ditarget Tuntas 2026

Bupati Dompu : Infrastruktur Masih Jadi PR Besar, Perbaikan Jalan Ditarget Tuntas 2026

3 Juni 2026
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Pemasangan Iklan
  • Contact Us
  • Peraturan Perusahaan
  • Tentang PersIndoNews

© 2022 - Ntbpost.co - Developed by Tokoweb.co

  • Beranda
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Politik
  • Kriminal
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pembangunan
  • Investigasi
  • Lainnya
    • Nusantara
    • Pariwisata
    • Sosial Budaya
    • Teknologi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
0
SHARES
900
VIEWS