DOMPU — Suara derak kayu dan gelak tawa belasan remaja riuh memecah sunyi perkampungan di Desa Ranggo, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu, sekitar empat dekade silam. Itu era 1980-an, ketika kabar seorang warga hendak menikahkan anaknya atau menggelar hajatan langsung menjadi urusan bersama satu kampung. Pesta milik satu keluarga terasa seperti pesta milik semua orang.
Waktu itu belum ada jasa sewa tenda, meja, atau kursi seperti sekarang. Segala kebutuhan acara lahir murni dari gotong royong dan uluran tangan tetangga kanan-kiri. Dan di tengah kesibukan menyiapkan pesta, ada satu tradisi kecil yang selalu dinanti-nanti, yang membekas dalam ingatan generasi yang mengalaminya, adalah misi meminjam kursi.
Misi Pasukan Pemikul Kursi
Para remaja yang waktu itu masih duduk di bangku SMP hingga SMA, langsung mengambil bagian untuk melaksanakan tugas itu. Rasanya penting, bahkan membanggakan. Begitu shohibul hajat mulai memastikan hari pernikahan atau hajatan anaknya, anak-anak dan remaja desa pun membentuk tim-tim kecil, menyusuri lorong demi lorong kampung, mengetuk pintu rumah warga satu per satu. Tujuannya sederhana, meminjam meja dan kursi.
Tapi kegiatan ini lebih dari sebatas memindahkan perabot dari satu rumah ke rumah lain. Ada kehangatan yang mengalir di setiap kunjungan, semacam bahasa saling peduli yang hanya dipahami orang-orang kampung.
Setiap kali pintu rumah diketuk, pemilik rumah menyambut dengan senyum terbuka. Mereka sudah tahu persis maksud kedatangan pasukan ana-anak remaja ini. Dan proses tawar-menawar jumlah kursi selalu menjadi bagian paling mengesankan sekaligus menggelitik dari misi itu.
Kejadian lucu ini berulang di hampir setiap teras rumah. Kalau sebuah rumah punya empat kursi baik kursi kayu, maupun kursi jenis lain, pemiliknya nyaris tak pernah merelakan semuanya. Selalu ada satu atau dua yang disisihkan untuk keperluan sendiri.
“Bawa dua atau tiga saja ya, Nak. Sisanya buat keperluan di rumah,” ucap seorang ibu tetangga sambil menyodorkan kursinya dengan ramah.
Alasan seperti itu terasa wajar, bahkan jujur apa adanya. Menyisakan kursi adalah cara warga menjaga kenyamanan rumah sendiri, tanpa mengurangi sedikit pun niat baik mereka menyokong hajatan tetangga. Mereka yang bertugas menjemput kursi menerima alasan itu dengan pengertian, bahkan dengan sukacita.
Setelah kursi terkumpul dari puluhan rumah, tugas fisik pun dimulai. kelompok remaja ini memikul kursi-kursi dari berbagai jenis, melewati jalan tanah desa menuju lokasi acara. Gelak tawa dan gurauan sepanjang jalan membuat beban di pundak terasa ringan.
Keikhlasan Tanpa Syarat di Akhir Pesta
Di arena pesta, pemandangan yang tersaji selalu unik. Kursi-kursi yang terkumpul rupanya beragam sekali, ada kursi papan sederhana, ada pula kursi rotan. Justru dari ketidakseragaman itu lahir warna-warni kebersamaan yang tulus. Tak jarang tamu yang hadir duduk di kursi yang mereka kenal betul, karena itu milik tetangga sebelah rumah sendiri.
Pesta usai dalam kepuasan dan kebahagiaan bersama. Musik perlahan redup, tamu mulai pulang satu demi satu. Tapi tugas pasukan pengumpul kursi belum selesai. Justru di titik inilah keindahan gotong royong benar-benar teruji.
Anak-anak yang tadi meminjam, dengan kesadaran dan keikhlasan yang sama, kembali berkumpul. Tanpa upah sepeser pun, tanpa keluhan sedikit pun, mereka memikul kembali kursi dan meja itu untuk diantarkan pulang ke pemiliknya masing-masing.
Anehnya, hampir tak pernah ada kursi yang hilang atau salah alamat. Kami hafal betul bentuk dan ciri khas kursi milik setiap tetangga, seolah sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif kampung.
Pergeseran Zaman dan Kerinduan
Tiga puluh tahun telah berlalu. Wajah desa-desa di Dompu sudah banyak berubah. Kepraktisan zaman modern menawarkan kemudahan yang dulu tak terbayangkan. Kini, saat ada hajatan, warga cukup menelepon penyedia jasa sewa. Tak lama, truk besar datang menurunkan ratusan kursi plastik seragam, meja berlapis taplak rapi, dan tenda megah lengkap dengan dekorasinya.
Segalanya serba cepat dan instan sekarang. Tapi bersama kemudahan itu, ada nilai-nilai sosial yang perlahan menguap begitu saja. Suasana kekeluargaan, canda tawa remaja yang memikul kursi, rasa saling memiliki antarwarga, semua itu kini menjadi kenangan yang langka ditemui.
Masyarakat Dompu yang pernah mengalami masa-masa itu kerap merindukan suasana hangat tersebut. Sebuah era ketika keterbatasan perabot justru melahirkan kekayaan rasa persaudaraan. Momen-momen yang digerakkan oleh keikhlasan murni, sebuah romantika masa lalu yang rasanya mustahil terulang di zaman yang serba canggih ini. (Idin)
1,733 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











