Oleh: Muhyiddin (Idin)
Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyimpan kekayaan destinasi wisata yang selama ini belum tergarap secara maksimal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Mulai dari deburan ombak kelas dunia di Pantai Lakey, hamparan padang sabana di kaki Gunung Tambora, hingga interaksi langka wisatawan dengan hiu paus di perairan Teluk Saleh, harusnya menjadi modal besar yang menuntut keseriusan tata kelola, terutama pada era efisiensi anggaran seperti sekarang.

Pantai Lakey, Magnet Wisata Selancar Dunia
Pantai Lakey di Kecamatan Hu’u sudah lama dikenal di kalangan peselancar internasional sebagai salah satu spot surfing terbaik di Indonesia bagian timur. Ombaknya yang konsisten sepanjang tahun menarik wisatawan mancanegara datang secara rutin, bahkan menjadikan Lakey sebagai destinasi langganan bagi komunitas surfing dari Australia, Eropa, hingga Amerika. Sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya diimbangi dengan infrastruktur pendukung yang memadai, mulai dari akses jalan, fasilitas akomodasi, hingga sistem retribusi wisata yang tertata rapi dan transparan.

Padahal, jika dikelola dengan model bisnis yang jelas, Lakey berpeluang menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) secara signifikan melalui retribusi masuk kawasan, sewa fasilitas, hingga kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata lokal.
Pemerintah Kabupaten Dompu perlu merancang skema pembiayaan yang terukur agar potensi ekonomi dari sektor selancar ini benar-benar terkonversi menjadi pendapatan daerah, bukan sekadar menjadi ajang promosi tanpa hasil fiskal yang jelas.
Gunung Tambora dan Sabana, Warisan Alam yang Menunggu Sentuhan Kelola
Gunung Tambora menyimpan nilai sejarah dan geologi kelas dunia sebagai lokasi letusan dahsyat tahun 1815 yang mengubah iklim global. Kawasan tersebut kini menjadi incaran para pendaki dan peneliti internasional. Ditambah dengan padang sabana yang membentang luas di kaki gunung, Tambora menawarkan paket wisata alam yang lengkap, mulai dari pendakian, fotografi lanskap, hingga wisata edukasi kebencanaan.

Pengembangan jalur pendakian standar, pos-pos informasi, serta pelibatan masyarakat sekitar sebagai pemandu dan penyedia jasa logistik menjadi kunci agar Tambora dan sabananya mampu menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan.
Skema retribusi pendakian yang dikelola profesional, dipadukan dengan promosi terarah ke pasar wisata minat khusus, akan memperkuat posisi Dompu sebagai destinasi geowisata unggulan nasional.
Teluk Saleh, Rumah Hiu Paus
Potensi bahari yang kini kian strategis datang dari perairan Teluk Saleh. Kawasan ini merupakan area konservasi sekaligus habitat alami spesies hiu paus (Rhincodon typus). Interaksi unik antara raksasa lembut laut tersebut dengan nelayan bagan apung menciptakan atraksi wisata minat khusus yang sangat langka ditemukan di belahan dunia mana pun.
Fenomena ini menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan pencinta konservasi laut dan fotografer alam bawah air dari berbagai negara. Tata kelola ekowisata hiu paus di Teluk Saleh berpeluang kuat menempatkan Dompu sebagai destinasi wisata konservasi bahari kelas dunia, melengkapi kekuatan destinasi darat yang sudah lebih dulu dikenal seperti Lakey dan Tambora.
Kombinasi wisata darat dan bahari inilah yang menjadikan kabupaten Dompu memiliki keunggulan komparatif dibanding daerah lain di kawasan timur Indonesia.
Wacana Menjadi Prioritas Anggaran
Di era efisiensi anggaran, pemerintah daerah dituntut lebih cermat menentukan prioritas pembiayaan pembangunan. Sektor pariwisata Dompu semestinya menjadi salah satu prioritas utama karena potensi pengembaliannya terhadap PAD sangat nyata dan terukur. Diskusi tentang keindahan Lakey, kemegahan Tambora, dan keunikan hiu paus Teluk Saleh sudah terlalu sering digaungkan dalam forum-forum seremonial tanpa tindak lanjut konkret berupa alokasi anggaran pembangunan infrastruktur wisata.

Pemerintah Kabupaten Dompu perlu segera menerjemahkan potensi tersebut ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran yang jelas, termasuk skema kerja sama pemerintah dan badan usaha, penguatan badan pengelola destinasi, serta pelatihan sumber daya manusia lokal. Tanpa langkah pembiayaan yang konkret, kekayaan alam Dompu hanya akan menjadi cerita indah tanpa kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Optimalisasi pariwisata Lakey, Tambora, dan Teluk Saleh bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar Dompu mampu keluar dari ketergantungan sektor konvensional dan membangun fondasi ekonomi baru yang berkelanjutan. Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan tiga ikon wisata ini akan menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah daerah dalam menghadirkan kesejahteraan nyata bagi rakyat Dompu.
25,991 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini







