Oleh: Hendri Atrimus (Pencinta Alam & Warga Dompu)
Tulisan tentang tiga ikon wisata Dompu, Pantai Lakey, Gunung Tambora, dan Teluk Saleh yang dimuat beberapa waktu lalu, saya baca dengan penuh minat. Sebagai seorang yang menetap lebih dari tiga dasawarsadi Dompu dan hampir setiap pekan berkeliling menikmati dan menyaksikan bagaimana tanah ini menyimpan potensi alam yang begitu luar biasa. Saya sangat setuju dengan semangat optimisme yang dibawa. Potensi yang diuraikan memang nyata dan menggoda. Lakey dengan ombak kelas dunianya, Tambora dengan sejarah dan sabananya, dan Teluk Saleh dengan hiu pausnya, adalah tiga anugerah yang jarang dimiliki satu daerah.
Bahkan, saya pribadi telah dua kali menjejakkan kaki ke puncak Gunung Tambora dan menatap langsung kawah raksasa yang menyimpan luka sejarah dahsyat tahun 1815. Dari ketinggian itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana alam berbicara tentang kekuatan dan kerentanannya sekaligus. Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal: keindahan Tambora serta 3 destinasi utama lainnya bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Namun, sebagai seseorang pencinta alam, saya merasa penting untuk menawarkan sebuah perspektif lain yang mungkin terlewat. Perspektif ini bukan untuk meredam optimisme, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik peluang emas, ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan hati-hati. Kita tidak boleh terjebak dalam euforia “mengejar” pertumbuhan ekonomi semata, karena kekayaan alam Dompu adalah aset yang rapuh. Saya menawarkan sebuah “Blue Roadmap” (Rencana Strategis) sebagai pelengkap “Peta Wisata” yang selama ini kita gaungkan.
Efisiensi Anggaran dan Akar Masalah yang Lebih Dalam
Tulisan sebelumnya dengan tepat menyoroti era efisiensi anggaran. Saya setuju bahwa di saat seperti ini, prioritas harus jelas. Namun, saya ingin mengangkat pertanyaan: apakah masalah utama kita memang kekurangan anggaran ? Data sejarah menunjukkan bahwa sejak tahun 2009, Kabupaten Dompu telah menghadapi masalah serius berupa lahan kritis yang luas dan kerusakan hutan yang signifikan. Debit air sungai-sungai besar seperti Sungai Baka dan Sungai Laju terus menurun drastis setiap tahunnya. Ini adalah fakta yang tidak bisa kita abaikan.
Mari kita hubungkan dengan keempat destinasi wisata kita. Jika kita hanya fokus membangun infrastruktur pariwisata tanpa memperbaiki kerusakan ekologis di hulu, maka investasi kita akan sia-sia. Apa gunanya menggenjot fasilitas wisata di Lakey jika abrasi dan sampah terus mengancam garis pantainya ? Apa gunanya mempermudah akses ke Tambora jika hutan di lerengnya semakin gundul dan sumber mata air mulai mengering ? Tulisan tentang sampah yang memenuhi Pantai Lakey pada tahun 2023 lalu adalah peringatan keras bahwa masalah kebersihan dan pengelolaan lingkungan adalah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Trekking Tambora: Antara Keagungan dan Kerapuhan
Gunung Tambora adalah jantung pariwisata Dompu. Letusan dahsyatnya pada tahun 1815 tidak hanya mengubah iklim global, tetapi juga menciptakan kaldera megah yang kini menjadi tujuan pendakian para petualang dan peneliti dari seluruh dunia. Trekking ke puncak Tambora adalah pengalaman spiritual yang menggetarkan. Saya sendiri telah dua kali merasakannya—melewati sabana luas, hutan cemara tropis, hingga akhirnya berdiri di bibir kawah yang sunyi namun penuh kekuatan.
Namun, dari dua kali pendakian itu, saya juga menyaksikan tanda-tanda kerusakan. Jalur pendakian yang mulai tergerus, sampah plastik yang ditinggalkan pendaki di pos-pos peristirahatan, serta minimnya informasi tentang etika pendakian bagi wisatawan. Jika ini terus dibiarkan, Tambora tidak akan kehilangan pesonanya, tetapi ia akan kehilangan integritas ekologisnya.
Pengembangan jalur pendakian standar, pos-pos informasi, serta pelibatan masyarakat sekitar sebagai pemandu dan penyedia jasa logistik—seperti yang disebut dalam tulisan sebelumnya—adalah langkah baik. Namun, saya ingin menambahkan: pemberdayaan masyarakat tidak boleh berhenti pada peran sebagai porter atau juru masak. Mereka harus dilibatkan dalam pengelolaan kawasan, pelatihan interpretasi alam, hingga sistem pemantauan lingkungan berbasis masyarakat. Saya telah melihat model serupa di kawasan konservasi lain, dan hasilnya luar biasa ketika masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab.
Teluk Saleh: Contoh di Mana Konservasi Harus Jadi Fondasi
Keberadaan hiu paus di Teluk Saleh adalah contoh paling gamblang mengapa pendekatan kita harus diubah. Pemerintah Provinsi NTB, melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1-196 Tahun 2026, telah menetapkan Teluk Saleh sebagai kawasan konservasi. Ini adalah langkah maju yang luar biasa.
Keputusan ini menegaskan bahwa konservasi adalah fondasi, bukan penghalang. Pengembangan ekowisata di Teluk Saleh, termasuk rencana pendirian learning center dan eduwisata, harus mengikuti aturan yang ketat demi melindungi habitat hiu paus. Ini adalah model yang tepat: melindungi alam terlebih dahulu, maka ekonomi akan mengikuti. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang terjadi di destinasi wisata lain, di mana kerusakan lingkungan terjadi karena aktivitas wisata yang tidak terkendali.
Pantai Lakey: Ombak Skala Dunia
Pantai Lakey telah lama menjadi magnet bagi peselancar internasional. Ombaknya yang konsisten sepanjang tahun adalah berkah. Namun, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah para peselancar itu hanya datang untuk ombak, lalu pergi, atau mereka juga membawa pulang kesan tentang kebersihan dan keramahan lingkungan kita?
Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan keindahan alam tanpa merawatnya. Sistem retribusi yang transparan, pengelolaan sampah terpadu, dan zonasi wisata yang jelas adalah kebutuhan mendesak. Lakey tidak boleh menjadi korban kesuksesannya sendiri.
Kesimpulan: Prioritaskan “Peta Jalan Biru”, Bukan Sekadar Ikon
Saya mengajak kita semua untuk berpikir ulang. Jangan hanya bertanya “berapa besar PAD yang bisa kita dapat?”, tetapi juga bertanya “bagaimana cara kita mengelola agar PAD ini bisa dinikmati oleh anak cucu kita 50 tahun lagi?”
Optimalisasi pariwisata di Dompu—dari Lakey, Tambora, hingga Teluk Saleh—adalah sebuah keniscayaan. Namun, jalan menuju ke sana tidak boleh terburu-buru. Kita membutuhkan sebuah “Peta Jalan Biru” yang komprehensif yang menempatkan kelestarian ekosistem sebagai prioritas utama. Sebelum kita membangun lebih banyak infrastruktur, mari kita selesaikan dulu masalah sampah, kerusakan hutan, dan kekeringan. Sebelum kita mempromosikan wisata ke seluruh dunia, mari kita pastikan masyarakat lokal siap menjadi tuan rumah yang baik bagi tamunya.
Saya telah dua kali berdiri di puncak Tambora, menyaksikan matahari terbit dari balik kaldera, dan merasakan hembusan angin yang membawa jutaan kisah sejarah. Dari ketinggian itu, saya belajar bahwa keindahan sejati adalah yang dirawat, bukan yang dieksploitasi. Kekayaan alam Dompu adalah titipan. Mari kita kelola dengan bijak, karena keindahan yang kita jual hari ini, adalah kehidupan yang kita wariskan untuk masa depan.
5,243 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini







