DOMPU — Deru mesin speedboat berkecepatan 30 knot memecah angin pagi di perairan laut di sekitar pantai Lakey Dompu, Jumat (29/5/2026). Tepat pukul 07.15 WITA, pencarian tanpa henti selama dua hari berturut-turut itu akhirnya menemui titik henti. Di kawasan lautan Mbo’o Mboha, perairan yang membentang antara pesisir Lakey dan Maci, raga Rian (23) akhirnya ditemukan.
Pemuda asal Desa Karang Asam, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat itu, awalnya ditemukan oleh nelayan, terombang-ambing cukup jauh dari titik awal ia terseret arus.
Evakuasi pagi itu berlangsung cepat namun menegangkan. Butuh waktu sekitar 30 menit bagi tim SAR gabungan untuk membelah ombak dan membawa jenazahnya kembali ke bibir pantai. Setibanya di daratan, Rian langsung dilarikan ke RSUD Dompu.
Kini, tugasnya sebagai pejuang rupiah di Bumi Nggahi Rawi Pahu telah purna. Rencananya, ia akan segera diberangkatkan menyeberangi lautan untuk yang terakhir kalinya, kembali ke pangkuan keluarganya di Jawa Barat.
Bencana di Balik Keindahan Senja
Mundur dua hari ke belakang, pesisir Lakey di Rabu petang (27/5/2026) laksana lukisan alam yang nyaris sempurna. Langit memerah di ufuk barat, memantulkan cahaya keemasan di atas point Nungas, Rock Pool yang tengah surut.
Sore itu, Rian bukanlah wisatawan yang datang berlibur dengan koper penuh pakaian renang. Ia hanyalah pekerja keras yang memeras keringat menggarap proyek pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih. Sekitar pukul 17.30 WITA, bersama enam rekan sekerjanya, ia menyambangi areal Rock Pool tepat di depan Alis Bar & Restaurant.
Ia hanya ingin sejenak melupakan kerasnya adukan semen dan teriknya matahari Dompu. Air laut yang sedang surut seolah ramah mengajak ketujuh pemuda itu untuk menceburkan diri dan membasuh lelah.
Namun, alam tak pernah mengirimkan telegram sebelum menunjukkan dahsyatnya. Tidak pernah disangka, sebuah gelombang pasang raksasa bergulung diam-diam dari tengah lautan, menghantam pesisir dengan tenaga penuh.
Kepanikan seketika mengoyak ketenangan senja. Hantaman air menyapu kolam-kolam karang dan langsung menyeret dua orang dari rombongan.
Dalam jeritan kepanikan, insting kemanusiaan bergerak secepat gulungan ombak. Seorang peselancar asing yang tengah menjajal ombak Nungas memacu papan selancarnya menembus buih dan arus maut. Sang turis berhasil merengkuh satu korban dan membawanya kembali ke tepian dengan selamat.
Nahas, keajaiban yang sama tak menghampiri Rian. Tubuh pemuda rantau itu tertelan pusaran arus, raib dari pandangan sebelum tangan siapa pun sempat meraihnya.
Sejak detik itu, kepanikan bermetamorfosis menjadi ketegangan. Laporan darurat menyebar kilat hingga ke meja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Dompu dan Pos SAR Bima. Namun, pekatnya malam dan arus yang terus mengganas memaksa tim menahan diri demi keselamatan.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Dompu, Wan Muhtajun, S.T., yang bersiaga di lapangan, terus memantau pergerakan air dengan raut tegang. “Pencarian dari hari Rabu hingga Kamis belum membuahkan hasil. Pagi ini, Jumat (29/05/2026), tim SAR gabungan kembali menyisir lautan,” ujarnya sebelum penemuan dramatis di Jumat pagi tersebut.
Selama 48 jam yang menyiksa, tim gabungan dari BPBD, Pos SAR Bima, TNI, Polri, Polairud, hingga relawan warga menolak menyerah pada lelah. Mereka menyisir setiap celah karang dengan perahu karet, melawan angin dan debur ombak.
Kini, penantian panjang itu usai. Di sebuah rumah di Majalengka, keluarga yang selama dua hari menatap layar ponsel dengan harap-harap cemas menanti mukjizat, harus menerima kenyataan pahit menyambut kepulangan sang anak dalam peti jenazah.
Pantai Lakey masih menderu, menggulung ombaknya yang diakui dunia. Dari keanggunannya, tersimpan satu pesan mutlak yang tak boleh dilupakan, seindah apa pun alam, ia memiliki batas tak kasat mata yang menuntut penghormatan dan kewaspadaan penuh dari siapa saja yang datang menyapanya. (Idin)
18,082 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini










