DOMPU — Matahari mulai condong ke barat, pertanda hari menjelang sore di arena penyembelihan hewan kurban di sebuah rumah di belakang kantor Desa Ranggo Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu . Suasana awalnya dipenuhi rasa syukur dan kelegaan. Tumpuk daging telah rapi terkemas dalam hitungan kilogram, bersiap untuk didistribusikan dari pintu ke pintu rumah warga yang berhak.
Ketenangan di ujung petang itu mendadak pecah menjadi kepanikan luar biasa. Teriakan histeris tiba-tiba bersahutan. Warga dan panitia kurban yang sedang sibuk mengurus daging sontak berhamburan, berlarian kalang kabut menyelamatkan diri. Arena yang tadinya dipenuhi canda tawa gotong royong berubah menjadi panggung ketakutan.
Penyebabnya bukanlah bencana alam, ternyata seekor sapi bertubuh besar yang berontak. Sapi tersebut adalah satu-satunya hewan kurban yang tersisa dan belum disembelih, entah dari mana datangnya kekuatan mamalia tersebut, tali tebal yang mengikatnya tiba-tiba terputus, sapi itu langsung menghentak keluar dari area penyembelihan. Postur sapi yang besar dengan tenaga yang berlipat ganda karena panik, tak ada satu pun warga yang berani mengambil risiko untuk menghentikan lajunya.
Kejadian ini memunculkan simpati sekaligus spekulasi dari warga yang menyaksikan langsung insiden tersebut. Banyak yang meyakini bahwa insting bertahan hidup sapi itu meronta setelah mengalami ketakutan yang luar biasa.
“Dia sepertinya ketakutan karena melihat langsung saudara-saudaranya sesama sapi direbahkan, dikuliti, dan dipotong-potong di depan matanya,” ujar salah seorang warga di lokasi kejadian.
Akibat insiden pelarian ini, panitia terpaksa mengambil keputusan cepat. Kegiatan penyembelihan hewan kurban terakhir itu resmi ditunda sambil menunggu warga berhasil melacak dan menangkap kembali sang sapi buron.
Nasar, salah seorang warga setempat, memiliki keyakinan mengenai jejak pelarian sapi tersebut bahwa, hewan mamalia itu tidak akan lari ke area permukiman yang asing baginya. “Sapi itu pasti kembali ke lokasi pelepasan ternak, berkumpul bersama teman-temannya di sana. Instingnya pasti mencari tempat aman karena ketakutan melihat proses penyembelihan tadi,” tutur Nasar.
Hingga hari ini, operasi pencarian masih terus dilakukan. Peristiwa luar biasa di Desa Ranggo ini menjadi kisah yang akan terus diingat oleh warga, sebuah drama tentang insting makhluk hidup yang menolak menyerah, tepat di saat bungkus-bungkus daging kurban sudah siap diantarkan. (Idin)
17,309 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











