Oleh: Muhyiddin (Idin)/Redaksi
Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Dompu tidak pernah berhenti bergerak. Razia digelar, penggerebekan dilakukan, tersangka diringkus, barang bukti disita dan dipamerkan dalam konferensi pers. Namun setiap kali satu jaringan dilumpuhkan, muncul lagi kabar penangkapan baru dari kampung lain. Dari kota kecamatan hingga desa-desa yang jauh dari pusat pemerintahan, laporan tentang penyalahgunaan dan peredaran sabu-sabu terus bermunculan seolah tak pernah benar-benar padam. Mengapa narkoba tetap bertahan di Bumi Nggahi Rawi Pahu, padahal aparat sudah bekerja begitu keras ?
Jawabannya terletak pada sifat bisnis narkoba itu sendiri, berjalan seperti roda yang terus berputar. Penangkapan bandar besar memang memutus satu mata rantai, tetapi permintaan di lapangan tidak ikut hilang bersamanya. Selama ada pemakai, selalu ada celah bagi pengedar baru untuk mengisi kekosongan itu. Barang datang dari luar daerah melalui jalur yang berubah-ubah, disimpan di tempat tersembunyi, lalu diedarkan lewat jaringan kecil yang saling tidak mengenal satu sama lain. Cara kerja seperti ini membuat satu penangkapan jarang bisa membongkar seluruh jaringan sekaligus. Begitu satu simpul putus, simpul lain segera menggantikan, dan siklus itu berulang lagi.
Siapa sebenarnya yang menguasai peredaran ini ? Fakta di lapangan bahwa pelakunya beragam, mulai dari residivis kasus serupa, warga biasa yang terjerat utang, hingga oknum yang memanfaatkan profesi atau kedudukannya sebagai kedok. Sebagian bertindak sebagai kurir kecil yang hanya mendapat imbalan tipis, sementara pengendali sesungguhnya sering berada jauh di luar jangkauan penangkapan pertama. Struktur berlapis semacam ini membuat narkoba sulit diberantas tuntas hanya dengan menangkap pelaku di ujung rantai paling bawah.
Yang lebih memprihatinkan, jaringan ini telah merambah ke lingkungan sekolah menengah atas. Sejumlah kasus yang terungkap menunjukkan bahwa pelajar tidak lagi sekadar mendengar cerita tentang narkoba dari media, melainkan bersentuhan langsung dengannya, baik sebagai pengguna maupun sebagai perantara kecil dalam peredaran. Usia remaja yang masih dalam masa pencarian jati diri membuat mereka rentan terhadap ajakan pergaulan yang salah, apalagi jika rasa ingin tahu dan tekanan sosial dari teman sebaya bertemu dengan mudahnya akses terhadap barang haram tersebut.
Padahal Badan Narkotika Nasional Kabupaten bersama jajaran Kepolisian Resort Dompu tidak tinggal diam. Sosialisasi bahaya narkoba digencarkan ke sekolah-sekolah, forum warga, hingga kegiatan keagamaan. Penyuluhan, edukasi, dan kampanye pencegahan terus dilakukan sebagai upaya membangun kesadaran sejak dini. Namun sosialisasi semacam ini hanya akan efektif jika diimbangi dengan pengawasan nyata di lingkungan terdekat anak-anak, yakni keluarga dan pergaulan sehari-hari mereka.
Di sinilah peran orang tua menjadi kunci yang tidak bisa digantikan oleh institusi manapun. Kesibukan mencari nafkah kerap membuat pengawasan terhadap anak menjadi longgar, sementara pergaulan anak semakin luas dan sulit dipantau sepenuhnya. Orang tua perlu meluangkan waktu untuk mengenal teman-teman anaknya, memperhatikan perubahan perilaku yang mencurigakan, serta membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman bercerita tentang tekanan atau ajakan yang mereka terima. Menjaga anak dari narkoba bukan pekerjaan sekali jalan, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan kehadiran, perhatian, dan ketegasan yang konsisten.
Selain itu, lingkungan tempat tinggal juga perlu dijaga bersama. Kepedulian warga untuk saling mengingatkan, melaporkan kejanggalan kepada pihak berwenang, dan menciptakan suasana kampung yang ramah anak akan memperkecil ruang gerak peredaran narkoba. Pemberantasan oleh aparat penegak hukum akan jauh lebih berarti jika didukung oleh kesadaran kolektif masyarakat, ditambah pengawasan ketat dari keluarga sebagai benteng pertama.
Dompu tidak akan bebas dari ancaman ini hanya dengan mengandalkan razia dan penangkapan. Dibutuhkan kerja sama semua pihak, dari aparat, sekolah, tokoh masyarakat, hingga orang tua di rumah, untuk memastikan generasi muda daerah ini tumbuh jauh dari jerat sabu-sabu dan racun sejenisnya.
29,139 kali dilihat, 29,139 kali dilihat hari ini










