KOTA BIMA — Ada satu kalimat yang sering terlupakan setelah seseorang meraih gelar, jabatan, atau kekayaan, “dari mana ia pertama kali belajar bermimpi.”
Bagi ribuan alumni SMAN Kota Bima, jawabannya sama, lorong-lorong sekolah yang berdiri sejak 1961 di jantung Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Sekolah yang oleh warganya cukup disebut “SMANBIMA”, dan nama itu saja sudah cukup untuk membuat mata berbinar.

Enam puluh tahun lebih berlalu. Para alumni kini tersebar dari ujung barat hingga timur Indonesia, bahkan hingga mancanegara, ada yang menjadi jenderal, birokrat, pengusaha, akademisi, jurnalis. Namun pada 17 Juni 2026 nanti, mereka sepakat untuk kembali ke satu titik, meja reuni Ikatan Lintas Angkatan Alumni SMANBIMA, mempertemukan 20 angkatan sekaligus, dari lulusan 1967 hingga 1986.
Jembatan antara Generasi Pertama dan Masa Kini
Dari ratusan wajah yang dijadwalkan hadir, sosok Juhra Husain memancarkan makna tersendiri. Ia adalah perwakilan angkatan 1967, generasi awal yang namanya terukir di halaman pertama sejarah SMANBIMA.
Kehadirannya bukan sekadar seremonial. Juhra adalah jembatan hidup antara masa rintisan sekolah ini dan era sekarang. Ia mengingatkan, bahwa jauh sebelum banyak alumni muda memegang tampuk kekuasaan, ada generasi pendahulu yang meletakkan fondasinya dengan tangan kosong.
Kehadiran sosok seperti Juhra memberi reuni ini dimensi yang lebih dalam dari sekadar euforia pertemuan. Ada tanggung jawab moral yang diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.
Bukan Pesta Reuni Biasa
Amar Makruf, Ketua Alumni SMANBIMA angkatan 1986, sekaligus motor penggerak perhelatan ini, tidak ingin acara 17 Juni hanya berakhir sebagai foto bersama dan tangis haru.
“Silaturahmi bukan sekadar ritual. Ia adalah pondasi peradaban kecil yang kita bangun bersama sebagai alumni, dari mana pun kita datang dan profesi apa pun yang kita jalani,” ujarnya.

Amar membawa kabar kelembagaan yang penting, organisasi Ikatan Lintas Angkatan Alumni SMANBIMA di tingkat pusat sudah berjalan. Kini, langkah berikutnya sedang dipersiapkan secara serius. “Kita sedang mengupayakan pembangunan dan penguatan kepengurusan tingkat wilayah NTB, dengan sekretariat yang dipusatkan di Kota Bima. Insya Allah,” katanya.
Sekretariat ini dirancang bukan sekadar sebagai alamat surat, melainkan sebagai “rumah” nyata bagi koordinasi antaralumni — menjadi tulang punggung yang menghubungkan mereka yang sukses di perantauan dengan mereka yang setia mengabdi di tanah kelahiran.
Menemukan yang Terserak
Ada cerita pilu yang ingin dicegah terulang, seorang alumni yang jatuh sakit di perantauan, tanpa ada satu pun saudara sealmamaternya yang tahu, padahal mungkin mereka tinggal satu kota.
Untuk itu, momentum reuni 17 Juni juga akan digunakan untuk membangun sistem pendataan digital yang terstruktur: memetakan nama, domisili, profesi, hingga kondisi sosial seluruh alumni. Sekretariat Wilayah NTB yang digagas Amar Makruf akan bertindak sebagai pusat koordinasi data ini, memastikan tak ada lagi alumni yang “hilang” dari jangkauan kepedulian.
17 Juni Hari Pulang
Pada tanggal itu, sekat-sekat jabatan dan status sosial akan ditanggalkan sejenak. Jenderal dan petani, menteri dan guru honorer, akan duduk berdampingan sebagai satu hal yang sama yakni, anak-anak Bima yang pernah duduk di bangku yang sama.
Reuni ini adalah batu pertama dari bangunan besar yang sedang dirancang. SMANBIMA membuktikan bahwa sekolah yang baik tidak berhenti mendidik ketika muridnya lulus tapi terus berkarya melalui tangan-tangan alumninya.
“Dan bagi siapa pun yang merasa sudah terlalu lama menghilang, atau ragu untuk datang, pintu ini terbuka lebar. Dalam kamus ukhuwah sejati, tidak ada kata terlambat untuk pulang.” ungkap Amar Makruf bernada mengundang. (Idin)
17,326 kali dilihat, 17,326 kali dilihat hari ini










