DOMPU — Peringatan Hari Jadi ke 211 tahun Kabupaten Dompu kali ini menyuguhkan pemandangan yang kontras dari lazimnya perayaan birokrasi. Pemerintah kabupaten (Pemkab) Dompu memutuskan untuk menanggalkan kekakuan protokol upacara formal dan menggantinya dengan konsep yang mereka sebut “Lesehan” walau tidak duduk melantai beralas tikar dan hangatnya rumput karena arena masih berlumpur. Masih menggunakan kursi yang mereka katakan tanpa sekat, tanpa jarak antara pemerintah dengan rakyatnya.
Pilihan ini tentu bukan sekadar gimik teknis dalam sebuah seremoni. Di balik kesederhanaan tersebut, terpancar pesan simbolik yang kuat tentang kesetaraan dan kolektivitas. Di tengah tren perayaan daerah yang sering kali terjebak dalam kemegahan semu, langkah Kabupaten Dompu ini patut diberi catatan apresiasi.
Antara Simbol dan Realitas Angka
Namun, jurnalisme mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada kulit luar. Pertanyaan mendasar yang muncul di usia Kabupaten Dompu yang sudah lebih dari dua abad ini adalah, sejauh mana semangat “duduk sama rendah” ini terkonversi dalam angka-angka kesejahteraan yang nyata ?
Jika memperhatikan data makro yang dirilis Pemkab Dompu, memang menunjukkan tren pergerakan yang positif, meski masih berada pada ritme yang moderat.
* Reduksi Kemiskinan : Penurunan angka kemiskinan dari 11,59 persen menjadi 11,15 persen adalah sinyal hijau. Namun, angka ini sekaligus menjadi pengingat bahwa “pekerjaan rumah” pengentasan kemiskinan masih menyisakan lebih dari sepuluh persen populasi yang membutuhkan intervensi sistematis.
* Akselerasi Ekonomi : Pertumbuhan ekonomi yang menyentuh 4,75 persen mencerminkan resiliensi daerah. Sektor pertanian dan perikanan tetap menjadi tulang punggung yang kokoh. Namun, ketergantungan pada sektor primer ini ibarat pisau bermata dua, ia memberi daya tahan tetapi rentan terhadap guncangan iklim dan volatilitas harga pasar global.
* Pendapatan Per Kapita : Kenaikan pendapatan per kapita memang memberikan gambaran kesejahteraan yang membaik secara agregat. Namun, tantangan besarnya tetap satu, adalah pemerataan. “Pembangunan tidak boleh hanya menjadi deretan angka di atas kertas laporan, ia harus menjadi nasi di atas piring masyarakat di pelosok desa.”
Inklusivitas : Melampaui Ruang Seremoni
Esensi dari lesehan adalah keterbukaan. Maka, semangat ini harus meluap keluar dari ruang perayaan menuju ruang kebijakan. Kebijakan pembangunan Dompu ke depan harus lebih inklusif, memastikan bahwa distribusi kue pembangunan tidak hanya berputar di pusat kota atau lingkar kekuasaan, tetapi benar-benar menyentuh kelompok rentan.
Momentum hari jadi ke-211 ini sejatinya adalah jeda untuk refleksi (muhasabah). Konsistensi pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi dan memastikan keadilan sosial akan menjadi ujian sesungguhnya bagi makna lesehan tersebut.
Penutup
Pada akhirnya, kewibawaan sebuah daerah tidak diukur dari seberapa megah panggung ulang tahunnya didirikan, melainkan dari seberapa jauh kebijakan yang diambil mampu mengangkat martabat warganya.
Lesehan di hari jadi ini adalah sebuah janji visual. Sebuah pengingat bahwa pembangunan yang kokoh selalu berakar pada kebersamaan. Kini publik menunggu bukti, apakah kerendahan hati dalam duduk lesehan tersebut akan diikuti oleh kerja keras yang substansial, ataukah ia hanya akan berakhir sebagai memori foto seremoni tahunan belaka. Dompu butuh lebih dari sekadar simbol, Dompu butuh keberlanjutan yang nyata.
16,030 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











