DOMPU — Proses seleksi dan mutasi jabatan pimpinan tinggi pratama atau eselon II di lingkup Pemerintah Kabupaten Dompu kembali menjadi sorotan. Kekosongan sejumlah kursi strategis yang berlarut-larut tanpa kepastian pelantikan dinilai mulai berdampak pada roda pemerintahan, mulai dari lambannya pengambilan keputusan hingga terganggunya kesinambungan program di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD).
Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Dompu, Drs. Zaenal Arifin, angkat bicara soal persoalan ini. Mantan Sekda yang saban disapa Dae Refo ini menuangkan pandangannya lewat sebuah analogi yang sederhana namun tajam bahwa, proses seleksi dan pelantikan pejabat eselon II sama dengan pembentukan sebuah klub sepak bola profesional.
Menurut Zaenal, proses seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama yang telah dijalankan sejauh ini sejatinya sudah melalui mekanisme yang profesional, layaknya sebuah tim pelatih yang menyaring pemain terbaik untuk klub sepak bola.
“Kalau boleh saya ibaratkan sebagai sebuah club sepakbola profesional, 33 pemain telah dipilih secara profesional oleh tim pelatih yg profesional pula. Masing-masing posisi terpilih 3 pemain dengan 11 pemain sebagai pilihan utama untuk 11 posisi dan 22 pemain sebagai pilihan kedua dan ketiga,” ungkap Dae Refo.
Dalam analogi tersebut, 33 kandidat yang telah melalui uji kompetensi diibaratkan sebagai pemain-pemain yang telah disaring oleh tim pelatih atau panitia seleksi. Masing-masing dari 11 jabatan yang lowong memiliki tiga kandidat, dengan satu pilihan utama dan dua pilihan cadangan.
Persoalan muncul, kata dae Refo, ketika hasil kerja profesional tim seleksi itu berpindah tangan ke pengambil keputusan akhir yang disebut sebagai “manajer atau pemilik klub”. Pada titik inilah, potensi masalah mulai terbuka lebar.
“Hasil kerja tim pelatih diserahkan kepada manajer/pemilik club yang kiranya masih amatiran ditambah lagi dengan adanya pengaruh masukan/suara/keinginan penggemar fanatik yang tidak sesuai dengan nominasi pilihan tim pelatih,” jelasnya.
Zaenal mengingatkan, penundaan pelantikan yang berkepanjangan berpotensi melahirkan keputusan yang diambil dalam kondisi kurang matang. Dia menyebut kemungkinan munculnya pilihan yang lebih mengedepankan selera ketimbang hasil penilaian objektif tim seleksi.
“Jika kondisi tsb dibiarkan terus berlarut, maka manajer/pemilik club akan memilih 11 pemain untuk mengisi 11 posisi dlm suasana kebingungan/keraguan, sehingga akan terpilih 11 pemain dengan sesuka hati/selera, yang pada akhirnya akan terbentuk sebuah tim/kesebelasan yang diragukan kemampuannya, baik secara teknis maupun non teknis,” tuturnya.
Dae Refo menegaskan bahwa persoalan pelantikan eselon II ini menyangkut kualitas kepemimpinan yang akan menentukan performa birokrasi ke depan. Sebuah organisasi perangkat daerah yang dipimpin oleh sosok yang kurang tepat pada posisinya berpotensi menghambat capaian target-target pembangunan daerah.
Meski menyoroti sejumlah potensi risiko, Zaenal tetap menyampaikan optimisme dan harapan agar keputusan akhir tetap berpijak pada hasil kerja profesional panitia seleksi.
“Tapi harapan kita sebagai penonton/penggemar setia club, semoga manajer/pemilik club dapat memilih 11 pemain yang benar-benar tepat pada masing-masing posisi/tempatnya, sehingga terbentuklah sebuah tim yang benar-benar solid,” harapnya.
Analogi klub sepak bola yang disampaikan Zaenal Arifin ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan di Pemerintah Kabupaten Dompu bahwa kepastian dan kecepatan pelantikan pejabat eselon II merupakan kebutuhan mendesak. Semakin lama kekosongan jabatan dibiarkan, semakin besar pula ruang bagi pertimbangan-pertimbangan di luar hasil seleksi untuk memengaruhi keputusan akhir.
Seluruh masyarakat kabupaten Dompu terus menanti langkah konkret dari Bupati sebagai pemegang kewenangan tertinggi dalam menentukan susunan pejabat eselon II. Kepastian jadwal pelantikan diharapkan segera diumumkan agar roda pemerintahan dapat berjalan dengan kepemimpinan definitif di setiap organisasi perangkat daerah, sekaligus menjawab harapan publik akan terbentuknya “tim” birokrasi yang solid dan kompeten. (Idin)
15,321 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini











