DOMPU — Beredar luas di media sosial, sebuah pandangan kritis terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Seorang Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Media Wahyudi Askar, membeberkan apa yang ia sebut sebagai “fakta mengerikan” di balik program tersebut.
Dalam ulasannya, ia menilai bahwa alokasi dana raksasa untuk MBG pada praktiknya lebih menyerupai bantuan untuk perusahaan raksasa atau corporate welfare dibandingkan untuk kepentingan rakyat kecil.
Melalui paparannya yang viral, Dr. Media membuat simulasi matematis terkait pembagian anggaran program yang disebut mencapai Rp 335 triliun dimaksud. Menurutnya, jika dana raksasa itu dibagi rata kepada seluruh penduduk Indonesia, masing-masing individu akan menerima uang tunai sebesar Rp 361.000.
Namun, angka tersebut menjadi jauh lebih fantastis jika anggaran disalurkan tepat sasaran hanya kepada kelompok masyarakat miskin.
Perhitungan per tahunnya bahwa setiap keluarga miskin seharusnya bisa menerima bantuan tunai hingga Rp 66 juta per tahun.
Perhitungan per bulan: Jika dibagi dalam skema bulanan, setiap keluarga miskin berpotensi mendapatkan Rp 5,2 juta per bulan.
Kritik tajam Dr. Media bermuara pada realitas nilai manfaat yang sampai ke tangan kelompok rentan. Jangankan mendapatkan nilai jutaan rupiah seperti dalam simulasi di atas, ia menyebut bahwa ekuivalen nilai yang diterima masyarakat miskin dari program tersebut hanyalah sekitar Rp 200.000. “Sekarang selisihnya ke mana? Uang ini larinya ke mana?” tanya dia dalam video unggahannya.
Ia pun memberikan jawaban menohok. Menurut sang akademisi, selisih dana yang sangat besar tersebut justru mengalir ke kantong vendor-vendor skala raksasa serta para pelaku rente logistik besar yang menguasai rantai pasok.
Kritik ini langsung mendapat atensi besar dari warganet mengingat latar belakang Dr. Media Wahyudi Askar yang memiliki kredibilitas akademis kuat.
Saat ini, ia tercatat sebagai Dosen Magister Manajemen dan Kebijakan Publik di UGM. Selain itu, ia juga merupakan alumnus perguruan tinggi bergengsi dunia, The University of Manchester, Inggris, lulusan tahun 2020.
Hingga kini, perdebatan mengenai efektivitas penyaluran anggaran MBG dan potensi keuntungan berlebih yang dinikmati korporasi besar masih menjadi perbincangan hangat di berbagai lini masa media sosial. (Idin)
39,500 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini










