DOMPU — Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan ternyata masih menjadi tulang punggung ekonomi Kabupaten Dompu dengan kontribusi sekitar 40 persen, jauh meninggalkan sektor perdagangan besar dan eceran di posisi kedua pada angka 16 persen. Angka ini disampaikan oleh H. Muhamad Alexander, salah seorang tokoh masyarakat yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu.
Ketika bincang-bincang dengan wartawan media ini, Alexander menyebutkan, dominasi dua sektor tersebut seharusnya menjadi pedoman utama dalam menyusun arah pembangunan daerah. Katanya, bahwa ketika satu sektor menyumbang hampir setengah dari struktur perekonomian, maka logikanya pembangunan daerah wajib diprioritaskan ke sana, baik dari sisi kebijakan maupun alokasi anggaran.
“Struktur perekonomian kita masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan 40 persen, sektor kedua terbesar adalah sektor perdagangan besar dan eceran sekitar 16 persen. Ini berarti bahwa pembangunan kita harus diprioritaskan pada potensi utama tersebut,” ujar Akexander.
Karenanya dia mempertanyakan komitmen pemerintah kabupaten (Pemkab) Dompu apakah benar-benar terwujud dalam praktik. Sudah seberapa besar intervensi yang dilakukan pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta perdagangan, baik dari aspek kebijakan maupun anggaran yang dikucurkan.
Menurutnya, keselarasan antara data struktur ekonomi dan arah kebijakan pembangunan adalah ukuran paling sederhana untuk menilai apakah pemerintah daerah serius menggarap potensi yang sesungguhnya menjadi penopang hidup sebagian besar warga kabupaten Dompu.
Pertanyaan tersebut, kata Alexander, lahir dari kesenjangan yang ia lihat sendiri pada postur APBD Kabupaten Dompu. Ia menyebut dukungan anggaran untuk sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan hanya berkisar 4,4 persen dari total APBD, sebuah angka yang menurutnya jauh tidak sebanding dengan kontribusi sektor tersebut bagi perekonomian daerah.
Yang menarik perhatian Alexander, meski porsi anggaran fisiknya hanya di kisaran 4,4 persen, suntikan dana itu tetap berhasil menggerakkan dan menjaga sektor pertanian sebagai penopang hidup utama masyarakat, dengan kontribusi 39,64 persen terhadap perputaran ekonomi Dompu. Sektor ini, kata dia, menjadi motor yang menghasilkan triliunan rupiah pada tingkat perputaran uang di kalangan petani.
Fakta tersebut lajut Alexander, seharusnya memperkuat alasan agar anggaran ke sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan ditambah secara signifikan. Jika dengan dukungan anggaran yang relatif kecil sektor ini sudah mampu menyumbang hampir 40 persen perekonomian daerah, ia menilai hasilnya akan jauh lebih besar apabila pemkab Dompu berani menaikkan porsi anggaran sesuai dengan bobot kontribusi sektor tersebut.
Sebagai mantan pejabat di lingkup pemerintahan daerah, Akexander memahami bagaimana proses perencanaan dan penganggaran disusun setiap tahun. Pengalaman itu yang mendasari kekhawatirannya bahwa sektor-sektor strategis kerap hanya disebut dalam dokumen perencanaan tanpa diikuti pos anggaran yang memadai untuk benar-benar menggerakkan sektor tersebut secara nyata.
H. Alexander berharap agar pemangku kebijakan di Dompu dapat mengevaluasi atau meninjau kembali proporsi anggaran dan kebijakan yang selama ini diberikan kepada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta perdagangan. (Idin)
19,281 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini










