DOMPU — Wacana penundaan Festival Lakey akibat tiadanya dukungan anggaran dari pemerintah pusat menuai keprihatinan. Festival yang diharapkan menjadi ikon pariwisata Dompu itu dinilai tidak semestinya dibiarkan redup hanya karena terbentur pembiayaan.
Pemerhati budaya Dompu, Muhammad Haryanto, mengatakan anggaran memang dibutuhkan dalam penyelenggaraan festival. Namun, ia mempertanyakan anggapan bahwa festival selalu harus digelar dengan biaya besar, panggung megah, tarian massal, atau hiburan populer.
“Sangat disayangkan jika Festival Lakey terancam ditunda karena tidak adanya budget dari pusat. Memang kegiatan ini butuh biaya, tetapi tidak selalu harus berbiaya besar,” ujarnya.
Menurut Haryanto, ketergantungan pada anggaran pusat dapat menjadi tanda lemahnya kemandirian daerah dalam merawat kehormatan kebudayaannya sendiri. Festival, kata dia, semestinya menjadi ruang kolektif warga untuk merayakan identitas, sejarah, dan akar budaya.
Ia menilai Pemerintah Kabupaten Dompu perlu menjadikan keterbatasan anggaran sebagai momentum evaluasi menyeluruh terhadap konsep Festival Lakey. Selama ini, festival kerap terjebak pada kemeriahan seremonial, sementara substansi kebudayaan belum sepenuhnya menjadi pusat perhatian.
“Festival tidak melulu soal tarian massal, mengundang penyanyi viral, atau mengejar rekor MURI. Sudah saatnya pemerintah daerah menata ulang konten Festival Lakey agar lebih membumi,” tegasnya.
Haryanto mendorong Pemkab Dompu membuka ruang rembuk dengan akademisi, sejarawan, sastrawan, seniman, musisi, aktor panggung, komunitas kreatif, hingga tokoh masyarakat. Kolaborasi itu dinilai penting untuk merumuskan wajah baru Festival Lakey yang tidak hanya menarik secara pariwisata, tetapi juga kuat secara identitas.
Menurutnya, Dompu memiliki kekayaan sejarah, tradisi lisan, manuskrip tua, lanskap alam, memori kolektif, dan potensi seni yang dapat diolah menjadi materi festival. Kekayaan itu tidak harus selalu diterjemahkan dalam bentuk panggung hiburan besar.
Beberapa format kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain ; Diskusi kebudayaan dan pengkajian manuskrip lama Dompu. Pementasan teater berbasis sejarah dan cerita rakyat. Pertunjukan musik etnik dan kolaborasi musisi lokal. Pameran arsip foto, karya visual, dan dokumentasi Lakey dari masa ke masa. Pemutaran film dokumenter tentang masyarakat pesisir, ombak, dan perubahan sosial di kawasan Lakey. Lokakarya penulisan, sinematografi, seni rupa, dan dokumentasi budaya. Pasar kreatif yang melibatkan UMKM, kuliner tradisional, dan produk komunitas.
Dengan pendekatan tersebut, Festival Lakey dinilai dapat meninggalkan warisan pengetahuan, arsip budaya, karya seni, dan dokumentasi bagi generasi mendatang. Festival juga tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang selesai setelah panggung dibongkar.
Haryanto menegaskan, ukuran keberhasilan festival tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah penonton, besar kecilnya panggung, atau nama besar pengisi acara. Festival yang sederhana tetapi berakar pada sejarah, menurutnya, jauh lebih bernilai daripada kegiatan besar yang hanya meninggalkan euforia sesaat.
Ia menilai Festival Lakey seharusnya menjadi ruang untuk membaca kembali hubungan masyarakat Dompu dengan laut, ombak, sejarah pesisir, tradisi, dan perubahan sosial di kawasan Hu’u. Lakey, kata dia, bukan hanya destinasi selancar, tetapi juga ruang hidup masyarakat yang memiliki cerita, ingatan, dan kebudayaan.
Karena itu, Pemkab Dompu diharapkan tidak hanya memosisikan Festival Lakey sebagai agenda promosi wisata. Pemerintah daerah dapat berperan sebagai fasilitator yang menggerakkan energi kreatif masyarakat, bukan semata-mata sebagai penyandang dana tunggal.
Melalui model kolaboratif yang melibatkan kampus, sekolah, sanggar seni, pelaku UMKM, pelaku pariwisata, komunitas pesisir, komunitas selancar, hingga diaspora Dompu, Festival Lakey diyakini tetap dapat hidup dalam skala yang lebih realistis. “Yang harus dijaga bukan semata-mata kemeriahan, tetapi keberlanjutan ruang kebudayaan itu sendiri,” tambah Haryanto.
Ia berharap Festival Lakey tetap dilaksanakan, meski dalam bentuk paling sederhana. Jika dirancang dengan fondasi budaya yang kuat, festival tersebut tidak hanya menjadi alat promosi wisata, tetapi juga sarana pendidikan publik, penguatan identitas lokal, dan ruang ekonomi kreatif masyarakat.
Haryanto mengajak publik tidak bertanya apakah Festival Lakey akan dilaksanakan atau tidak, karena pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa ruang yang pernah menghidupkan masyarakat justru berisiko dibiarkan meredup.
Karenar itu, ia menegaskan bahwa masa depan Festival Lakey bergantung pada kemauan daerah untuk menjadikannya sebagai ruang hidup kebudayaan. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan keberanian menata ulang konsep, Festival Lakey dapat tetap hadir sebagai tempat masyarakat Dompu mengenali dirinya, merawat sejarahnya, dan memperkenalkan identitasnya kepada dunia. (Idin)
19,214 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini










