MATARAM — Nilai Tukar Petani (NTP) Nusa Tenggara Barat pada Mei 2026 mencapai 130,44, naik 1,91 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandai penguatan daya beli petani NTB sekaligus menjadi sinyal positif bagi ekonomi perdesaan dan ketahanan pangan daerah.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., mengungkapkan kenaikan NTP didorong oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang naik 2,38 persen — jauh melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,46 persen.
“Keadaan ini menunjukkan posisi tukar petani terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi semakin baik dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Wahyudin dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Aula Tambora BPS NTB, Selasa (2/6/2026).
Seluruh subsektor pertanian utama di NTB mencatat NTP di atas 100 pada Mei 2026. Subsektor hortikultura memimpin dengan NTP tertinggi sebesar 240,49, disusul tanaman pangan (119,50), peternakan (118,31), perikanan (109,53), dan tanaman perkebunan rakyat (100,71).
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) turut menguat menjadi 135,28 atau naik 1,28 persen dibanding April 2026, menunjukkan kemampuan usaha pertanian dalam menghasilkan pendapatan tetap dalam kondisi baik.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, menyebut capaian ini sejalan dengan prioritas pembangunan daerah yang menempatkan ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan sebagai agenda utama.
“Ketika petani semakin sejahtera, ekonomi desa ikut bergerak dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” ujar pejabat yang akrab disapa Aka itu.
BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani mengalami kenaikan tipis 0,04 persen, dipengaruhi meningkatnya pengeluaran pada kelompok perumahan, kesehatan, transportasi, komunikasi, serta makanan dan minuman.
Pemprov NTB menyatakan akan terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian, penguatan akses pasar, hilirisasi komoditas, pemanfaatan teknologi pertanian, dan pengembangan ekosistem pangan berkelanjutan. (Diskominfotik NTB)
VERSI 2: ARTIKEL SEMI FEATURE
Petani NTB Makin Sejahtera, NTP Mei 2026 Capai Level Tertinggi
Di sebuah aula di Kantor BPS Provinsi NTB, Selasa pagi (2/6/2026), ada angka yang disambut lega banyak pihak: 130,44. Itulah Nilai Tukar Petani (NTP) NTB bulan Mei 2026 — naik 1,91 persen dari bulan sebelumnya, dan menjadi cerminan nyata bahwa kehidupan petani di ujung timur Pulau Lombok dan daratan Sumbawa perlahan terus membaik.
NTP bukan sekadar deretan angka statistik. Indikator ini adalah cermin dari seberapa besar hasil jerih payah petani di ladang dan sawah mampu mengimbangi — bahkan melampaui — harga barang dan jasa yang mereka butuhkan sehari-hari. Ketika NTP di atas 100, artinya petani “menang”: pendapatan mereka tumbuh lebih cepat daripada biaya hidup.
Harga Jual Naik, Biaya Produksi Terkendali
Kepala BPS NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menjelaskan bahwa kunci kenaikan NTP bulan ini terletak pada perbedaan yang cukup signifikan antara dua indeks pembentuknya. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) — cerminan harga komoditas yang mereka jual — naik 2,38 persen. Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) — yang mencerminkan harga pupuk, bibit, hingga kebutuhan pokok keluarga — hanya naik 0,46 persen.
Selisih itulah yang membuat daya beli petani menguat. “Posisi tukar petani terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi semakin baik,” kata Wahyudin.
Hortikultura Bersinar, Semua Subsektor di Atas 100
Yang menarik dari data Mei 2026 adalah capaian merata di seluruh subsektor. Tak ada satu pun yang mencatat NTP di bawah 100 — artinya tidak ada subsektor yang berada dalam kondisi rugi secara nilai tukar.
Subsektor hortikultura tampil paling mencolok dengan NTP 240,49 — angka yang jauh di atas rata-rata dan mencerminkan tingginya nilai jual sayuran, buah, dan tanaman hias NTB di pasar. Tanaman pangan mengikuti di angka 119,50, peternakan 118,31, perikanan 109,53, dan perkebunan rakyat 100,71.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) yang lebih spesifik mengukur sisi bisnis pertanian — bukan konsumsi — juga naik menjadi 135,28 atau tumbuh 1,28 persen. Ini pertanda bahwa usaha tani bukan hanya cukup untuk hidup, tetapi juga menghasilkan surplus yang berarti.
“Ekonomi Desa Ikut Bergerak”
Bagi Pemerintah Provinsi NTB, angka-angka ini bukan hanya laporan statistik bulanan. Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, menyebutnya sebagai konfirmasi bahwa arah kebijakan pembangunan daerah sudah berada di jalur yang tepat.
“Ketika petani semakin sejahtera, ekonomi desa ikut bergerak dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” kata Aka, sapaan akrab mantan birokrat yang kini menjadi wajah komunikasi pemerintah NTB itu.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. NTB adalah provinsi yang tulang punggung ekonominya masih banyak ditopang sektor pertanian dalam arti luas — dari sawah, kebun tembakau, peternakan sapi, hingga tambak ikan dan udang di pesisirnya. Ketika petani punya lebih banyak uang untuk dibelanjakan, roda ekonomi di pasar-pasar desa pun ikut berputar lebih kencang.
Tantangan Tetap Ada
Di balik kabar gembira ini, BPS juga mencatat hal yang patut dicermati: Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani naik tipis 0,04 persen. Pengeluaran untuk perumahan, kesehatan, transportasi, dan komunikasi sedikit meningkat — sinyal bahwa kebutuhan hidup petani terus berkembang, tidak hanya soal pangan.
Pemprov NTB menyikapi ini dengan mendorong sejumlah agenda lanjutan: peningkatan produktivitas pertanian, penguatan akses pasar, hilirisasi komoditas agar petani tidak hanya menjual bahan mentah, serta pemanfaatan teknologi pertanian modern.
Perjalanan menuju petani NTB yang benar-benar sejahtera memang masih panjang. Tetapi angka NTP 130,44 di Mei 2026 ini setidaknya menunjukkan satu hal: arahnya sudah benar. (Dilah)
9,149 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini










